Selasa, 16 Juni 2026

Tinjauan Islam Tumbuhan Sebagai Obat

 

Tinjauan Islam

Keanekaragaman tumbuhan merupakan salah satu ciptaan Allah SWT yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, baik itu digunakan sebagai bahan pangan maupun sebagai bahan pengobatan. Segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT memiliki banyak manfaat sehingga dihamparkan dibumi dan dikelola oleh manusia sebagai khalifah di atas bumi ini. Hanya saja dalam pengelolaannya di butuhkan Ilmu pengetahuan, dengan itu, manusia sebagai khalifah dapat mengambil manfaat dari ciptaan Allah SWT. terutama dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan pengobatan (Mukhriani, 2014). Berdasarkan hal tersebut, Allah swt. berfirman dalam QS. Thaha/20:53 yang berbunyi:

 

الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ مَهْدًا وَّسَلَكَ لَكُمْ فِيْهَا سُبُلًا وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۗ فَاَخْرَجْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْ نَّبَاتٍ شَتّٰى

Terjemahnya:

(Dialah Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan meratakan jalan-jalan di atasnya bagimu serta menurunkan air (hujan) dari langit.” Kemudian, Kami menumbuhkan dengannya (air hujan itu) beraneka macam tumbuh-tumbuhan” (Kementerian Agama, 2019)

Berdasarkan ayat tersebut, Allah swt. Menciptakan hamparan yang luas dengan macam tumbuh-tumbuhan untuk dimanfaatkan manusia. Tumbuhan menjadi rezeki bagi makhluk hidup karena merupakan bahan pangan, bahan sandang, papan dan bahan obat-obatan. Begitu banyak manfaat tumbuh-tumbuhan bagi makhluk hidup lain, sedangkan tumbuhan adalah makhluk yang tidak pernah mengharapkan balasan dari makhluk lain. Oleh sebab itu, pada penelitian yang akan dilakukan adalah memanfaatkan tumbuhan parang romang sebagai upaya pengobatan antidiabetes. penelitian ini dapat terjadi dengan adanya izin Allah swt.

Dalam Islam, manusia yang sakit dianjurkan untuk berobat kepada yang ahlinya. Obat yang dianjurkan oleh syariat islam ialah obat yang sesuai dengan penyakit yang diderita. Sebagaimana sebuah ayat yang sering dikaitkan dengan konsep penyembuhan dan pengobatan adalah QS.  Al-Isra, ayat 82:

 

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا      

Terjemahnya:

Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan    rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim, selain kerugian” (Kementerian Agama, 2019).

Ayat ini menyatakan bahwa Al-Quran bukan hanya sekadar kitab petunjuk, tetapi juga merupakan sumber penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pengertian ini dapat dipahami secara harfiah dalam arti spiritual, bahwa ajaran-ajaran Al-Quran memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan rohani, serta memberikan ketenangan dan harapan kepada orang-orang yang mempercayainya (Kemenag, 2019)

Selain surat di atas, penanganan berbagai jenis penyakit juga telah diperjelas oleh hadits Rasulullah saw:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلَّا وَقَدْ أَنْزَلَ

                         مَعَهُ دَوَاءً ، جَهِلَهُ مِنْكُمْ مَنْ جَهِلَهُ ، وَعَلِمَهُ مِنْكُمْ مَنْ عَلِمَهُ                                 

 

Artinya:

Rasulullah saw. bersabda: sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya. (Hanya saja) tidak mengetahui bagi orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui bagi orang yang mengetahuinya.” (HR.Ahmad no. 413 dan 453)

Hadits di atas menjelaskan bahwa Allah swt telah menurunkan penyakit di muka bumi ini disertai dengan obat penawarnya, tidak ada penyakit yang diciptakan olehnya tanpa ada obatnya. Tetapi ada beberapa umat yang mengetahui obat dari penyakit tersebut dan ada pula yang tidak mengetahuinya. Tergantung bagaimana manusia memahami obat dari penyakit tersebut. Hubungan hadits ini dengan penelitian yaitu pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas untuk mengetahui apakah tumbuhan bunga parang romang tersebut dapat mengobati penyakit Diabetes Melitus. Inilah salah satu upaya yang dilakukan untuk menemukan obat dari penyakit tersebut (Ar-Rumaikhon, 2008).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar