Penerapan kurikulum merdeka terdapat perubahan pada bidang mata pelajaran di tingkat Sekolah Dasar, salah satunya melalui penggabungan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Keduanya dikombinasikan menjadi mata pelajaran IPAS, dengan harapan dapat memicu anak untuk dapat mengelola lingkungan alam dan sosial dalam satu kesatuan. Perubahan tersebut mengindikasikan bahwa IPA dan IPS sebenarnya dapat diajarkan secara bersamaan. Terlebih objek kajian kedua mata pelajaran sama-sama tentang lingkungan sekitar (Lailatul Fajar Nurngaini, 2024).
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang makhluk hidup dan benda mati di alam semesta serta interaksinya, dan mengkaji kehidupan manusia sebagai individu sekaligus sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya. IPAS membantu peserta didik menumbuhkan keingintahuannya terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya. Keingintahuan ini dapat memicu peserta didik untuk memahami terkait proses alam semesta bekerja dan berinteraksi dengan kehidupan manusia di muka bumi (Novina, 2023). Peran IPAS tampak jelas dalam menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik terhadap fenomena di sekitarnya, sehingga mereka mampu memahami, mengidentifikasi permasalahan, dan menemukan solusi. Hal ini menjadikan IPAS sebagai bekal bagi peserta didik untuk berkontribusi dalam pencapaian tujuan pembangunan di masa depan (Ghaniem, Fitri & Yasella, 2022).
Dalam kegiatan belajar mengajar, tugas seorang guru adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Tujuan yang diharapkan adalah pengetahuan peserta didik bertambah dari yang tidak tahu menjadi tahu. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu model pembelajaran yang tepat agar proses transfer ilmu pengetahuan dari guru ke peserta didik berlangsung secara efektif. Problem Based Learning merupakan salah satu dari sekian banyak model pembelajaran yang dapat dilakukan untuk siswa di sekolah (Mayasari et al., 2022). PBL merupakan model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk mengenal cara belajar serta bekerja sama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian
ISSN 2715-2820 (Print) Al asma: Journal of Islamic Education
ISSN 2715-2812 (Online) Vol. 8, No. 1, May 2026
48
masalah-masalah di dunia nyata. Model pembelajaran PBL menyiapkan peserta didik untuk berpikir secara kritis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran (Febiani Musyadad et al., 2019).
Berdasarkan penelitian yang di lakukan Risandy dkk, menunjukkan bahwa Penerapan PBL dapat membantu peserta didik mengembangkan keterampilan kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah. Melalui kerja kelompok dan interaksi dengan teman sekelas, peserta didik dapat belajar untuk bekerja sama, mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain, serta mencari solusi bersama-sama. PBL juga memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas mereka. Dalam proses penyelidikan dan eksplorasi, peserta didik dihadapkan pada situasi yang memerlukan pemikiran kreatif dalam mencari solusi atau menghasilkan ide baru. Hal ini dapat merangsang perkembangan potensi kreatif peserta didik dan meningkatkan kepercayaan diri dalam menyampaikan ide-ide mereka (Risandy, 2023). Meskipun demikian, fakta di lapangan sering kali menunjukkan adanya kesenjangan. Berdasarkan observasi awal di kelas V SD Inpres Balang Boddong 1 Kota Makassar, ditemukan bahwa meskipun model PBL telah diperkenalkan, partisipasi peserta didik masih rendah. Guru masih menghadapi tantangan dalam memicu keterlibatan aktif siswa.
Urgensi penelitian ini didasarkan pada kebutuhan mendesak untuk mengatasi rendahnya partisipasi dan kesulitan belajar peserta didik dalam mata pelajaran IPAS. Penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh (Mayasari et al., 2022) menunjukkan bahwa model Problem Based Learning (PBL) memiliki efektivitas tinggi dalam meningkatkan keaktifan siswa melalui pemecahan masalah nyata. Selain itu, (Lutfi, 2021) dalam penelitiannya menegaskan bahwa PBL mampu mendorong semangat belajar siswa pada pembelajaran tematik di tingkat sekolah dasar. Namun, meskipun literatur menunjukkan hasil yang positif, fakta di SD Inpres Balang Boddong 1 menunjukkan fenomena yang berbeda, peserta didik kelas V masih mengalami kesulitan dalam memahami materi dan cenderung pasif dalam interaksi kelompok.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan penelitian yang digunakan pedagogis (merujuk pada teori pengajaran) dan psikologis (pendekatan untuk melihat reaksi). Adapun sumber data penelitian ini ada dua yaitu data primer dan data sekunder. Subjek dalam penelitian ini adalah lima peserta didik serta satu guru kelas V. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data digunakan teknik triangulasi sumber, triangulasi metode dan triangulasi waktu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Implementasi Problem Based Learning (PBL) Pembelajaran IPAS pada Peserta Didik Kelas V SD Inpres Balang Boddong 1 Kota Makassar
Berdasarkan wawancara dengan wali kelas V sekaligus guru mata pelajaran IPAS Ibu N dan lima peserta didik kelas V serta pengamatan langsung pada proses pembelajaran, implementasi model PBL dijalankan dengan tahap yang jelas dan sistematis. Implementasi PBL terdapat beberapa tahap di dalamnya sesuai dengan tahapan yang dikemukakan oleh
Jhon Dewey, mencakup tahap orientasi peserta didik pada masalah, mengorganisasikan peserta didik dalam belajar, membantu penyelidikan kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Pada tahap awal yaitu orientasi peserta didik pada masalah, guru awalnya akan membuka pembelajaran dengan memberi pengantar materi dan menginformasikan masalah yang akan dipecahkan peserta didik. Dalam tahap ini guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik agar terlibat aktif dalam pembelajaran.
Kemudian pada tahap kedua yaitu mengorganisasikan peserta didik dalam belajar, guru akan membagi peserta didik ke dalam kelompok belajar kecil dengan memperhatikan karakter mereka agar kelompok bekerja optimal dan menghindari dominasi oleh salah satu dari mereka. Setiap kelompok diberikan tugas yang bersifat memecahkan masalah yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, seperti eksperimen mengenai cahaya dan bayangan.
Tahap ketiga yaitu membantu penyelidikan kelompok, pada tahap ini peserta didik akan bekerja sama untuk memecahkan masalah, guru bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan dan mendampingi peserta didik selama proses berlangsung. Guru membantu mereka bila mengalami kesulitan, serta memastikan semua anggota kelompok terlibat aktif.
Tahap selanjutnya yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya, setelah peserta didik selesai mengerjakan, setiap kelompok menyajikan hasil temuan mereka melalui presentasi di depan kelas sebagai bentuk tanggung jawab dan pengembangan keterampilan komunikasi peserta didik.
Tahap terakhir yaitu, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Peserta didik melakukan refleksi tentang proses yang mereka lalui dan guru juga memberikan kuis tanya jawab atau lembar kerja mandiri sebagai evaluasi, serta memberikan penilaian terhadap kerja sama, kreativitas, selama proses pembelajaran berlangsung.
Implementasi Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran IPAS telah dilaksanakan dengan mengikuti tahapan utama sintaks PBL. Hal tersebut sesuai dengan sintaks PBL menurut Arends yang menyatakan bahwa sintaks PBL meliputi: 1) mengorientasikan masalah; 2) mengorganisir untuk meneliti; 3) membantu investigasi; 4) mempresentasikan hasil karya serta menganalisis; dan 5) mengevaluasi proses mengatasi masalah (Nurdiyah Lestari, 2018).
Pelaksanaan sintaks PBL di kelas ini menunjukkan bahwa model pembelajaran ini mampu menciptakan proses belajar yang aktif, kolaboratif, dan kontekstual, berdasarkan dari pengamatan langsung, serta sesuai dengan tujuan PBL untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mandiri pada peserta didik. Hal tersebut sejalan dengan teori John Dewey, yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran melalui kerja sama, interaksi sosial, dan kebebasan berpendapat (Hilmi, Faisol Ahmad, 2024). Selain itu, penelitian ini juga sejalan dengan penelitian terdahulu oleh Lutfi Afifiah yang menyatakan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan semangat dan keaktifan peserta didik (Lutfi, 2021).
Tantangan yang dihadapi dan upaya guru mengatasi tantangan tersebut
Dalam proses penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran IPAS kelas V di SD Inpres Balang Boddong 1, ditemukan beberapa tantangan yang memengaruhi kelancaran pelaksanaan pembelajaran. Salah satu tantangan utama adalah
kondisi peserta didik yang beragam, seperti peserta didik yang sulit dikendalikan saat pembelajaran berlangsung sehingga mengganggu suasana kelas, membuat proses pembelajaran kurang kondusif. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Widya Maharani dkk, yang menyatakan bahwa salah satu tantangan dalam penerapan model PBL dalam pembelajaran adalah beberapa peserta didik yang gaduh saat proses pembelajaran di kelas lebih tepatnya saat sedang melakukan diskusi kelompok (Pramudita et al., 2025).
Selain itu, dalam pembentukan kelompok, terdapat peserta didik yang mendominasi aktivitas kelompok, sehingga menyulitkan anggota lain untuk berkontribusi secara merata. Dominasi ini terkadang menyebabkan ketidakseimbangan partisipasi di antara anggota kelompok, sehingga beberapa peserta didik tidak memperoleh kesempatan untuk belajar dan berkontribusi secara optimal. Situasi ini memerlukan perhatian khusus agar tujuan pembelajaran PBL yang bersifat kolaboratif dapat tercapai dengan baik.
Tantangan lain yang juga ditemukan adalah adanya kesulitan peserta didik dalam memahami beberapa materi atau mencari jawaban selama proses pemecahan masalah. Hal ini menuntut peran guru tidak hanya sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai pembimbing yang memberikan bimbingan dan dukungan tambahan agar peserta didik tidak merasa kebingungan selama pembelajaran berlangsung. Hal ini sejalan dengan pendapat Aurelia dan Intan yang berpendapat bahwa tantangan lain yang turut memengaruhi adalah variasi kemampuan peserta didik dalam satu kelas. Peserta didik memiliki kebutuhan dan tingkat pemahaman yang berbeda-beda dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Peserta didik dengan pemahaman yang lebih lambat terkadang mengalami kesulitan dalam mengikuti alur penyelidikan yang dituntut oleh model PBL (Aurelia & Intani, 2025). Selain itu hal tersebut juga sejalan dengan pernyataan khairunnisa dkk, yang menyatakan bahwa beberapa peserta didik cenderung gaduh saat pembelajaran, terutama pada tahap diskusi kelompok (Nada Khairunnisa Handoko, Muhamad Chamdani, 2025).
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, guru melakukan berbagai upaya strategis agar pembelajaran tetap berjalan efektif dan tujuan PBL tercapai. Salah satu upaya penting adalah memberikan pendekatan kepada peserta didik yang cenderung mendominasi atau mengganggu proses belajar. Guru mendorong peserta didik tersebut untuk berbagi peran dan belajar bersama teman-temannya secara lebih kooperatif. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Atrianti dkk yang menyatakan bahwa solusi dari kendala yang ditemui pada saat penelitian yaitu guru mengarahkan, mengawasi dan membimbing peserta didik dalam melakukan diskusi agar tugas setiap anggota dapat lebih terarah, guru mengondisikan peserta didik dan menekankan tata tertib belajar (Artanti et al., 2023). Selain itu, hal tersebut juga sejalan dengan pendapat Aurelia dkk yang menyatakan bahwa untuk mengatasi kesulitan peserta didik dalam memahami materi atau mencari jawaban, guru perlu memberikan arahan, penjelasan tambahan, serta menemani peserta didik saat eksplorasi materi agar mereka tetap termotivasi dan tidak merasa kesulitan (Aurelia & Intani, 2025).
Pada saat kegiatan diskusi kelompok, guru menegaskan pentingnya kebersamaan dengan meminta setiap peserta didik menunggu hingga semua anggota kelompok selesai sebelum berpindah ke tahapan berikutnya. Hal ini bertujuan untuk membangun solidaritas dan kerja sama antar peserta didik, sehingga kelompok menjadi lebih kompak dan efektif dalam menyelesaikan tugas.
Guru juga memberikan bimbingan seperti pemberian arahan serta penjelasan tambahan bagi peserta didik yang merasa kebingungan dalam memahami materi atau sulit mencari jawaban. Guru juga secara fisik menemani peserta didik saat melakukan eksplorasi materi, sehingga mereka tetap merasa didukung dan termotivasi. Selain itu, untuk mengatasi kendala yang dialami guru dapat mengelompokkan peserta didik sesuai dengan gaya belajar masing-masing peserta didik. Gaya Belajar terbagi menjadi tiga, yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditori, dan gaya belajar kinestetik. Penerapannya dilakukan dengan mengelompokkan peserta didik sesuai dengan gaya belajar masing-masing (Visual, Auditori, dan Kinestetik). Artinya, dalam satu waktu pembelajaran IPAS, guru memfasilitasi kebutuhan yang berbeda-beda tersebut agar kendala pembelajaran dapat diminimalisir.
Peserta didik dengan gaya belajar visual lebih mudah menyerap informasi melalui penglihatan, seperti gambar, grafik, peta konsep, dan ilustrasi visual lainnya. Ciri-ciri anak yang memiliki gaya belajar visual yakni bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi, tidak suka bicara di depan kelompok, tapak terlihat pasif pada saat diskusi, kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan. Selanjutnya, peserta didik dengan gaya auditori lebih memfokuskan indra pendengaran untuk memperoleh informasi dalam proses pembelajaran. Cici-ciri anak dengan gaya belajar auditori yaitu berbicara dengan diri sendiri saat mengerjakan tugas, senang membaca dengan suara keras, mudah terganggu oleh keributan, serta lebih mudah mengingat hal yang didiskusikan dari pada yang dilihat. Sedangkan peserta didik dengan gaya belajar kinestetik mengandalkan belajar melalui gerakan, menyentuh, dan melakukan tindakan. Ciri-ciri anak dengan gaya belajar kinestetik yakni sulit berdiam diri dan cenderung ingin selalu bergerak, mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif, menyukai praktik atau percobaan, menyukai permainan serta aktivitas fisik (Budi et al., 2021).
Dengan upaya-upaya tersebut, kendala dalam pelaksanaan PBL dapat diminimalisir, dan proses pembelajaran bisa tetap berjalan dengan lancar, menciptakan suasana belajar yang positif dan mendukung pengembangan kemampuan peserta didik secara menyeluruh.