Rabu, 07 Januari 2026

Menguatkan Profesionalisme Guru dan Kepemimpinan Sekolah di Tengah Keterbatasan Teknologi


  1. Langkah prioritas kepala sekolah untuk mengatasi keterbatasan sumber daya teknologi di sekolah

Langkah prioritas kepala sekolah dalam mengatasi keterbatasan sumber daya teknologi di sekolah harus dimulai dari perencanaan strategis yang matang dan berorientasi pada kebutuhan nyata pembelajaran. Kepala sekolah perlu melakukan pemetaan kondisi sarana prasarana, kompetensi guru, kesiapan siswa, serta dukungan orang tua dan masyarakat. Dari hasil pemetaan tersebut, kepala sekolah dapat menentukan skala prioritas, misalnya mendahulukan pengadaan perangkat dasar seperti proyektor, komputer bersama, jaringan internet sekolah, atau laboratorium digital sederhana sebelum beralih ke teknologi yang lebih kompleks. Selain itu, optimalisasi sumber daya yang ada juga menjadi langkah penting, seperti membuka program penggunaan bersama perangkat guru, rotasi laboratorium, serta membentuk jadwal penggunaan teknologi secara bergiliran agar seluruh kelas tetap memperoleh akses pembelajaran digital. 

Kepala sekolah juga perlu membangun kemitraan dengan pemerintah daerah, dunia usaha, alumni, dan lembaga sosial guna memperoleh dukungan pendanaan, hibah perangkat, atau program CSR pendidikan. Upaya ini diperkuat dengan peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan teknologi pembelajaran, workshop digital literacy, serta pembinaan komunitas belajar guru agar mereka mampu memanfaatkan teknologi meski dengan fasilitas terbatas. Langkah berikutnya adalah menanamkan budaya inovasi, kreativitas, dan sikap bijak dalam menggunakan teknologi sehingga sekolah tidak sekadar tergantung pada perangkat mahal, tetapi mampu menghadirkan solusi sederhana yang efektif. Hal ini sejalan dengan nilai Islam tentang pentingnya memanfaatkan potensi secara optimal dan berikhtiar menghadapi keterbatasan. 



Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6: 

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ۝٥

Terjemahnya:

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” 

Ayat ini mengajarkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk maju, melainkan dorongan bagi pemimpin sekolah untuk berusaha mencari jalan keluar terbaik. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan wajib mengelola sumber daya secara bertanggung jawab, adil, dan berorientasi pada kemaslahatan seluruh warga sekolah. Dengan perencanaan prioritas, kolaborasi, pengembangan SDM, serta penguatan nilai spiritual, keterbatasan teknologi dapat diatasi secara bertahap sehingga kualitas pembelajaran tetap berkembang.

  1. Bagaimana guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan Islam dalam kegiatan sehari-hari

Guru memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan Islam ke dalam kegiatan sehari-hari, baik di dalam maupun di luar kelas. Integrasi nilai tersebut tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi pelajaran agama, tetapi juga melalui pembiasaan sikap, keteladanan perilaku, serta suasana pembelajaran yang mencerminkan akhlak Islami. Guru dapat memulai dengan menanamkan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan rasa hormat melalui aturan kelas yang berlandaskan etika Islam, misalnya membiasakan siswa mengucapkan salam, berdoa sebelum dan sesudah belajar, menjaga kebersihan, serta menghargai guru dan teman. 

Selain itu, guru dapat menghubungkan materi pelajaran umum dengan nilai tauhid dan moral, seperti menumbuhkan rasa syukur dalam pelajaran sains, keadilan dalam pelajaran PPKn, atau amanah dalam tugas kelompok. Keteladanan guru menjadi aspek paling penting, sebab siswa belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari sikap nyata yang mereka lihat setiap hari. Guru yang sabar, adil, tidak diskriminatif, dan berperilaku santun akan menjadi model akhlak bagi peserta didik. Nilai-nilai Islam juga dapat diintegrasikan melalui kegiatan kokurikuler seperti program sedekah kelas, bakti sosial, literasi Al-Qur’an, budaya antri, dan gerakan peduli lingkungan sebagai wujud implementasi nilai rahmatan lil ‘alamin. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Ahzab ayat 21: 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا


Terjemahnya

"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah." 

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam pada hakikatnya berbasis keteladanan. Selain itu, QS. Luqman ayat 17 menegaskan pentingnya pendidikan karakter: “Wahai anakku, dirikanlah salat, suruhlah berbuat kebaikan dan cegahlah dari kemungkaran, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” Ayat ini mengajarkan bahwa pendidikan Islam mencakup pembinaan ibadah, moral, dan kesabaran dalam menghadapi kehidupan. Dengan demikian, integrasi nilai Islam dalam kegiatan sehari-hari tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual siswa, tetapi juga membangun kepribadian berakhlak mulia, beriman, dan bertanggung jawab, sehingga tujuan pendidikan Islam tercapai secara utuh dalam kehidupan nyata.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar