Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari berbagai keadaan, baik yang menyenangkan maupun yang penuh ujian. Tidak semua harapan berjalan sesuai rencana, dan tidak semua doa langsung terjawab seperti yang diinginkan. Pada kondisi inilah sikap ridha dan bersyukur menjadi pondasi penting dalam membentuk ketenangan jiwa dan kedewasaan iman. Ridha dan syukur bukanlah sikap yang muncul secara instan, melainkan perlu dilatih secara sadar dan terus-menerus.
Ridha berarti menerima ketentuan Allah dengan lapang dada, tanpa rasa kecewa berlebihan atau protes dalam hati. Ridha bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keyakinan bahwa setiap ketetapan Allah selalu mengandung hikmah. Allah Swt. berfirman:
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 8)
Ayat ini mengajarkan bahwa ridha bukan hanya tentang menerima keadaan, tetapi juga tentang hubungan spiritual antara hamba dan Tuhannya. Ketika seseorang berusaha ridha, ia belajar menenangkan hati, mengendalikan emosi, dan mempercayakan hasil akhir kepada Allah.
Namun, ridha akan terasa lebih ringan ketika disertai dengan rasa syukur. Bersyukur bukan hanya mengucapkan “alhamdulillah” saat memperoleh kebahagiaan, tetapi juga mampu melihat nikmat di balik keterbatasan. Allah Swt. menegaskan:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Melalui ayat ini, Allah mengajarkan bahwa syukur memiliki kekuatan besar dalam memperluas nikmat hidup. Orang yang bersyukur cenderung lebih tenang, tidak mudah mengeluh, dan mampu menghargai hal-hal kecil yang sering terabaikan. Bahkan dalam kesulitan, syukur membantu seseorang melihat bahwa masih banyak karunia Allah yang tersisa.
Melatih diri untuk ridha dan bersyukur dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menerima hasil usaha dengan lapang dada, tidak membandingkan hidup dengan orang lain, serta membiasakan refleksi diri setiap hari. Ketika gagal, seseorang dapat bertanya, “Apa pelajaran yang Allah ingin ajarkan?” dan ketika berhasil, ia mengingat bahwa semua itu terjadi atas izin-Nya.
Ridha dan syukur juga membentuk pribadi yang kuat secara mental dan spiritual. Keduanya membantu seseorang tetap berdiri teguh di tengah ujian dan tidak larut dalam kesombongan saat mendapat keberhasilan. Dengan ridha, hati menjadi damai; dengan syukur, hidup terasa cukup.
Pada akhirnya, melatih diri menjadi pribadi yang ridha dan bersyukur adalah perjalanan seumur hidup. Tidak selalu mudah, tetapi setiap usaha kecil untuk menerima dan mensyukuri ketetapan Allah akan membawa ketenangan, keberkahan, dan kedekatan yang lebih dalam kepada-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar