Jumat, 02 Januari 2026

Pentingnya Menjaga Akhlak Mahmudah di Era Media Sosial

 

    Perkembangan teknologi di era digital membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dengan hadirnya media sosial. Media sosial memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, berbagi informasi, dan menambah wawasan. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat membawa dampak negatif jika tidak digunakan dengan bijak. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah menurunnya akhlak, seperti berkata kasar, menyebarkan berita bohong, pamer berlebihan, dan saling menghina. Oleh karena itu, menjaga akhlak mahmudah sangat penting agar seseorang tidak terpengaruh oleh dampak buruk media sosial.

    Akhlak mahmudah adalah akhlak terpuji yang diajarkan dalam Islam, seperti jujur, santun, sabar, rendah hati, dan bertanggung jawab. Akhlak ini harus diterapkan tidak hanya dalam kehidupan nyata, tetapi juga dalam dunia maya. Setiap tulisan, komentar, dan unggahan di media sosial mencerminkan kepribadian seseorang. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menjaga perkataan, sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

(QS. Al-Ahzab: 70)

    Ayat tersebut menegaskan bahwa seorang muslim harus berkata jujur dan baik, termasuk saat berinteraksi di media sosial. Perkataan yang tidak baik dapat melukai perasaan orang lain dan merusak persaudaraan.

    Selain menjaga perkataan, Islam juga melarang umatnya untuk menghina dan merendahkan orang lain. Media sosial sering dijadikan tempat untuk mengejek, membully, dan menyebarkan kebencian. Padahal, Allah SWT dengan tegas melarang perbuatan tersebut dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.”

(QS. Al-Hujurat: 11)

    Ayat ini mengajarkan pentingnya sikap saling menghormati dan menjaga etika dalam pergaulan, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

    Media sosial juga rawan dengan penyebaran berita bohong atau hoaks. Akhlak mahmudah mengajarkan sikap tabayyun atau meneliti kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”

(QS. Al-Hujurat: 6)

    Menjaga akhlak mahmudah agar tidak terpengaruh media sosial dapat dilakukan dengan memperkuat iman, membatasi penggunaan media sosial, menyaring konten yang dilihat, serta menggunakan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi sarana kebaikan, bukan sumber kerusakan akhlak.

    Kesimpulannya, akhlak mahmudah merupakan benteng utama dalam menghadapi pengaruh negatif media sosial. Dengan berpegang pada ajaran Al-Qur’an dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim dapat tetap berakhlak mulia di dunia nyata maupun di dunia maya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar