Senin, 29 Desember 2025

MENGATASI ORANG YANG TIDAK BERAKHLAK

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak jarang bertemu orang yang berperilaku tidak berakhlak, melanggar norma moral, atau tidak memegang teguh prinsip etika. Perilaku semacam itu bisa berupa kata-kata kasar, penipuan, penindasan, atau penyebaran keburukan yang merusak hubungan sosial dan ketenteraman. Bagi orang yang beriman, ajaran Islam memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana menghadapi situasi ini dengan cara yang mulia, tidak melampaui batas, dan tetap memelihara keimanan serta akhlak sendiri.

penting untuk memahami bahwa perilaku tidak berakhlak bukanlah sesuatu yang dianut Pertama oleh agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu menegaskan pentingnya menjaga akhlak mulia dan menghindari keburukan. Dalam Al-Quran, Allah menyebutkan orang yang tidak berakhlak dengan sebutan "fasik" atau "zalim", yaitu mereka yang melanggar perintah-Nya dan merugikan sesama. Misalnya, dalam QS. Al-Baqarah (2): 26, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ إِنَّمَا يَأْمُرُونَكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan syaitan sebagai pemimpin selain Allah. Sesungguhnya mereka hanya memerintahkanmu untuk berbuat kejahatan dan yang tidak layak, serta agar kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui."

Ayat ini mengingatkan kita bahwa syaitan adalah pemimpin bagi mereka yang berperilaku buruk, dan kita harus menghindari terjebak dalam keburukan yang dia seru. Oleh karena itu, ketika menghadapi orang yang tidak berakhlak, kita harus tetap tegas dalam memegang prinsip kebenaran dan tidak tergoda untuk mengikuti langkah mereka.

1. Balas Keburukan dengan Kebaikan

Salah satu prinsip terpenting dalam Islam dalam menghadapi orang yang berperilaku buruk adalah membalas keburukan dengan kebaikan. Allah berfirman dalam QS. Fushilat (41): 34: 

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."

Penjelasan ayat ini adalah bahwa ketika seseorang berbuat buruk kepada kita, baik melalui kata maupun perbuatan, kita harus menjawabnya dengan kebaikan, kelembutan, dan pemahaman. Misalnya, jika seseorang menghina kita, kita tidak perlu membalas hinaan itu, melainkan bisa menjawab dengan kata-kata yang lembut atau bahkan memaafkannya. Allah yang menguasai hati manusia, dan dengan kebaikan kita, mungkin hati orang yang berperilaku buruk akan berubah menjadi baik. Hal ini juga tercermin dalam QS. Al-A'raf (7): 199, yang berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh."

2. Bersikap Lembut dan Sabar

Islam juga mengajarkan kita untuk bersikap lembut dan sabar dalam menghadapi segala kesulitan, termasuk orang yang tidak berakhlak. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah contoh paling sempurna dalam hal ini. Allah berfirman dalam QS. Ali 'Imran (3): 159:

بِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَلَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya."

Kesabaran dan kelembutan tidak berarti kita lemah, melainkan merupakan tanda kekuatan batin yang besar. Dengan bersikap lembut, kita bisa menghindari konflik yang tidak perlu dan membuat orang lain lebih mudah menerima nasihat kita.

3. Cegah Kebaikan dengan Lisan atau Perbuatan (Jika Mampu)

Meskipun kita disarankan untuk membalas keburukan dengan kebaikan, Islam juga mengizinkan kita untuk mencegah orang yang berperilaku buruk dari melanjutkan kejahatannya, terutama jika itu merugikan orang lain. Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah bersabda:

"Tolonglah saudara mu, baik yang zalim maupun yang dizalimi." Ketika para sahabat bertanya, "Bagaimana cara menolong orang yang zalim, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Engkau mencegah dia dari berbuat zalim. Maka sesungguhnya engkau telah menolongnya." (HR. Bukhari)

Cara mencegah bisa berupa menyampaikan nasihat yang sopan, mengingatkan dia tentang akibat perbuatannya, atau bahkan mengambil tindakan hukum jika perlu. Selain itu, dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

"Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaknya dia mengubahnya dengan kedua tangan nya. Jika tidak mampu melakukannya, maka hendaknya dengan lisan nya. Jika tidak mampu lagi, maka hendaknya (mencegah kemungkaran) dengan hatinya, itu lah selemah-lemahnya iman.'" (HR. Muslim)

Ini berarti bahwa bahkan jika kita tidak mampu mengubah perilaku buruk seseorang dengan perbuatan atau kata, kita masih bisa mencegahnya dengan hati yang tidak setuju dan berdoa agar dia mendapatkan hidayah.

4. Berdoa Agar Mereka Mendapatkan Hidayah

Yang paling penting, kita harus selalu berdoa agar orang yang tidak berakhlak mendapatkan hidayah dari Allah dan berubah menjadi orang yang baik. Hidayah adalah anugerah dari Allah, dan hanya Dia yang bisa mengubah hati seseorang. Dalam QS. Al-Ghafir (40): 44, Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رَسُولَنَا بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

"Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul kami dengan petunjuk dan agama yang benar, agar dia menyebarkan agama itu atas semua agama, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya." 

Kita bisa berdoa agar Allah memberika petunjuk kepada orang yang tidak berakhlak, sehingga dia menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaiki diri. Doa juga bisa membantu kita sendiri untuk tetap tenang dan tidak terganggu oleh perilaku mereka.

5. Jaga Jarak Jika Perlu

Jika perilaku orang yang tidak berakhlak terus-menerus menyakitkan kita atau membahayakan keamanan dan kesejahteraan kita, maka kita bisa memilih untuk menjaga jarak dengan dia. Ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan cara untuk melindungi diri sendiri dan mempertahankan akhlak kita. Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

"Hai Aisyah, sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dihindari oleh manusia karena takut kejahatannya." (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa orang yang berperilaku buruk akan dihindari oleh orang lain, dan kita juga berhak untuk menjauhinya jika itu perlu.

Kesimpulnya, mengatasi orang yang tidak berakhlak adalah tantangan yang sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dengan mengikuti ajaran Islam, kita bisa menghadapi situasi ini dengan cara yang mulia, tidak melampaui batas, dan tetap memelihara keimanan serta akhlak sendiri. Kita harus membalas keburukan dengan kebaikan, bersikap lembut dan sabar, mencegah kejahatan jika mampu, berdoa agar mereka mendapatkan hidayah, dan menjaga jarak jika perlu. Dengan demikian, kita tidak hanya melindungi diri sendiri tetapi juga berusaha untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar