A. Blended learning di era digital
Era digital telah mengubah tataran pembelajaran secara mendasar, dan blended learning menjadi model yang paling relevan untuk mengakomodasi kebutuhan siswa di zaman ini. Blended learning menggabungkan pembelajaran tatap muka (di kelas) dengan pembelajaran online (dari mana saja, kapan saja) model ini tidak menggantikan peran guru, melainkan memperkuat akses dan kualitas pembelajaran. Misalnya, siswa bisa mempelajari materi dasar (seperti definisi konsep IPA) melalui video online di rumah, lalu menghabiskan waktu di kelas untuk mendiskusikan aplikasi konsep tersebut dengan guru dan teman sebaya.
B. Peran Guru Profesional
1. Menyediakan materi offline: Guru dapat membagikan materi pembelajaran (dalam format dokumen teks, video yang diunduh, atau slide presentasi) melalui flashdisk atau aplikasi yang dapat diakses tanpa internet (seperti Google Classroom Offline Mode) sebelum siswa belajar di rumah.
2. Jadwal pembelajaran online yang fleksibel: Guru dapat memberikan jangka waktu 2-3 hari untuk menyelesaikan tugas online, sehingga siswa bisa mengakses internet di waktu yang tersedia (misalnya ketika ada sinyal yang cukup di warung internet terdekat).
3. Pembelajaran tatap muka sebagai pengganti sementara: Jika siswa tidak dapat mengakses materi online, guru dapat memberikan materi dan tugas yang sama selama sesi tatap muka, sehingga tidak ada siswa yang tertinggal.
- Akses materi yang lebih luas: Aplikasi seperti Quizizz, Kahoot, atau Edpuzzle memungkinkan guru memberikan materi dalam format yang interaktif (kuis, video dengan pertanyaan, atau diskusi grup) yang lebih menarik dibandingkan materi cetak konvensional.
- Pemantauan kemajuan siswa yang lebih akurat: Aplikasi pembelajaran online dapat melacak kemajuan siswa secara otomatis. Guru dapat melihat siswa mana yang sudah menyelesaikan tugas, mana yang mengalami kesulitan, dan memberikan umpan balik secara cepat.
- Keterlibatan siswa yang lebih tinggi: Format interaktif dari aplikasi pembelajaran membuat siswa lebih termotivasi untuk belajar, terutama siswa yang lebih nyaman dengan teknologi.
Namun, dampak negatif yang perlu diperhatikan adalah risiko "kelebihan layar" (overexposure to screen) yang dapat menyebabkan kelelahan mata atau gangguan konsentrasi siswa, dan risiko siswa yang tidak memiliki perangkat atau internet yang cukup tertinggal. Oleh karena itu, guru profesional harus mengatur penggunaan aplikasi dengan bijak: membatasi waktu penggunaan layar, dan menyediakan alternatif tugas offline untuk siswa yang membutuhkannya.
Kesimpulan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar