Senin, 01 Juni 2026

Dampak Positif Dan Negatif Penggunaan AI Dalam Pendidikan Islam

 Dampak Positif Dan Negatif Penggunaan AI Dalam Pendidikan Islam


Menurut Fauziyah (2023) Adapun dampak positif penggunaan AI ialah : 1)

personalisasi pembelajaran, 2) Penilaian Otomatis, 3) Tutor Virtual, 4) Smart Content,

dan 5) Voice Assistant.

1. Personalisasi pembelajaran

AI (Artificial Intelligence) memiliki peran strategis dalam mendukung

personalisasi pembelajaran melalui proses pengumpulan dan analisis data yang berkaitan

dengan kebutuhan, preferensi, serta perkembangan belajar peserta didik secara individual.

Oasis Volume 10 No. 2 Tahun 2026 177

Rosidah Astiawati dkk

Berdasarkan hasil analisis tersebut, AI mampu merancang dan menyajikan pengalaman

pembelajaran yang adaptif dan selaras dengan karakteristik masing-masing peserta didik.

Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk

mengevaluasi tingkat pemahaman dan minat belajar peserta didik secara berkelanjutan.

Dengan demikian, kurikulum dan materi pembelajaran dapat disesuaikan secara lebih

tepat dengan kebutuhan(Huda & Suwahyu, 2024) individu, sehingga proses pembelajaran

berlangsung lebih efektif dan optimal (Yuhana, 2024).

2. Penilaian otomatis

Artificial Intelligence (AI) banyak dimanfaatkan dalam pelaksanaan asesmen dan

penilaian pembelajaran secara otomatis melalui berbagai platform digital. Kehadiran fitur

ini memberikan kemudahan bagi guru dan instruktur dalam merancang serta

melaksanakan kuis maupun evaluasi hasil belajar secara lebih efisien dan praktis. Melalui

dukungan sistem berbasis AI, pendidik tidak lagi harus menyusun instrumen penilaian

dan melakukan koreksi jawaban secara manual, karena proses tersebut dapat dijalankan

secara otomatis sesuai dengan algoritma dan instruksi yang telah diprogramkan, serta

dikembangkan berdasarkan pola penggunaan dan respons peserta di dik. Oleh karena itu,

AI berpotensi besar untuk mengotomatisasi proses penilaian tugas dan ujian dalam mata

pelajaran Pendidikan Agama Islam secara objektif dan berkelanjutan (Saputri & Alting,

2025).

3. Tutor Virtual

Sistem tersebut beroperasi dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin

(machine learning) yang memungkinkan sistem untuk mengenali pola pembelajaran serta

strategi pengajaran melalui interaksi berkelanjutan dengan peserta didik. Sistem tutor

berbasis AI mampu memberikan umpan balik dan rekomendasi secara otomatis, serta

menyajikan materi dan latihan tambahan guna membantu peserta didik memperdalam

pemahaman terhadap topik pembelajaran tertentu. Dalam konteks Pendidikan Agama

Islam, sistem AI dapat berperan sebagai tutor virtual yang mendukung peserta didik

dalam memahami konsep-konsep keagamaan, merespons pertanyaan secara interaktif,

serta memberikan bimbingan dalam pelaksanaan praktik-praktik ibadah dan nilai-nilai

keislaman (Huda & Suwahyu, 2024) .

4. Smart Content

Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengembangan smart content memberikan

kemudahan dalam proses penelusuran, pengelompokan, dan penemuan materi

pembelajaran serta buku digital yang telah diprogram secara virtual dengan tingkat

kecepatan dan efisiensi yang lebih tinggi. Implementasi teknologi ini banyak dijumpai

pada berbagai platform perpustakaan digital, baik di lingkungan sekolah, perguruan

tinggi, maupun perpustakaan umum. Melalui dukungan sistem berbasis AI, proses

pencarian dan pengkategorian sumber belajar dapat dilakukan secara lebih sistematis dan

terorganisasi. Selain itu, AI juga mampu menyajikan rekomendasi buku dan konten yang

relevan berdasarkan pola pencarian dan kebutuhan pengguna, sehingga mendukung

efektivitas akses terhadap sumber belajar (Masuroh & Mardan, 2025).

5. Voice Assistant

Voice Assistant merupakan salah satu bentuk penerapan kecerdasan buatan yang

telah dikenal luas dan dimanfaatkan dalam berbagai sektor, termasuk bidang pendidikan.

Beberapa contoh Voice Assistant yang umum digunakan antara lain Google Assistant.

Teknologi ini memungkinkan peserta didik untuk mengakses berbagai sumber belajar,

seperti materi pembelajaran, referensi soal, artikel ilmiah, hingga buku yang berkaitan

dengan Pendidikan Agama Islam, melalui perintah suara atau penyebutan kata kunci

tertentu. Dengan demikian, Voice Assistant berkontribusi dalam meningkatkan

kemudahan dan kecepatan akses informasi pembelajaran secara lebih interaktif (Azzahra

et al., 2026).

Pemanfaatan AI (Artificial Intelligence) dalam pembelajaran Pendidikan Islam

memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses

pembelajaran melalui personalisasi materi, penilaian otomatis, tutor virtual,

pengembangan smart content, serta penggunaan voice assistant yang memudahkan akses

informasi. AI memungkinkan pembelajaran yang lebih adaptif sesuai kebutuhan dan

karakteristik peserta didik, serta mempercepat proses evaluasi dan penyediaan umpan

balik. Namun demikian, implementasinya masih memiliki keterbatasan, terutama dalam

mengukur aspek afektif dan spiritual, menjaga validitas materi keagamaan, serta

menghindari ketergantungan teknologi yang berlebihan. Oleh karena itu, AI sebaiknya

dimanfaatkan sebagai sistem pendukung yang melengkapi peran pendidik, bukan

menggantikannya, sehingga pembelajaran tetap mampu menyeimbangkan aspek kognitif,

afektif, dan spiritual.

Selain dari itu penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran tentunya

tidak terlepas dari erbagai potensi dampak negatif diantaranya.

Pemanfaatan AI secara berlebihan dapat menimbulkan ketergantungan peserta

didik terhadap teknologi, yang berimplikasi pada menurunnya kemandirian belajar,

melemahnya inisiatif berpikir kritis, serta berpotensi mengurangi tingkat literasi peserta

didik. Sejalan dengan pandangan Winanda & Prasetio, (2025) bahwa penggunaan AI

dalam pendidikan dapat menyebabkan penurunan kreativitas, serta melehmanya interaksi

pembelajaran dan perubahan pola belajar yang bergantung pada teknologi.

Penggunaan sistem penulisan esai berbasis AI, seperti ChatGPT yang

dikembangkan oleh OpenAI, mengandung risiko terjadinya plagiarisme. Sistem tersebut

dirancang untuk menghasilkan teks berdasarkan perintah atau parameter tertentu,

sehingga berpotensi disalah gunakan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas

akademik tanpa melalui proses berpikir dan refleksi secara mandiri. Selain itu, AI juga

berpotensi mengambil alih sebagian peran guru, khususnya dalam memberikan jawaban

atas pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan agama dan moralitas (Ali et al., 2023).

Kondisi ini menuntut guru untuk membangun relasi pedagogis yang kuat dengan peserta

didik agar tetap memiliki peran sentral dalam membimbing pemahaman keagamaan dan

nilai-nilai moral, terutama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas.

Risiko Etis Dan Moral: Refleksi Mendalam Terhadap Esensi Pendidikan Islam

Secara lebih kritis, risiko etis dan moral menjadi perhatian utama yang bersifat

reflektif dalam Pendidikan Islam karena kehadiran kecerdasan buatan menyentuh dimensi


spiritual dan batasan kemanusiaan yang tidak dimiliki oleh teknologi manapun.

Fenomena dehumanisasi dalam proses pendidikan menjadi ancaman nyata ketika

interaksi mekanis yang serba otomatis mulai menggantikan kedekatan personal dan

kehangatan batiniah antara pendidik dan peserta didik. Kondisi ini sejalan dengan

kekhawatiran mendalam bahwa AI dapat mereduksi peran guru sebagai Murabbi sosok

yang seharusnya memberikan bimbingan spiritual, pembersihan jiwa (tazkiyatun nufus),

dan keteladanan moral yang nyata (Supriatin et al., 2025). Peran sebagai pendidik dalam

Islam memerlukan keterlibatan jiwa, perasaan, dan simpati yang mustahil direplikasi oleh

barisan kode algoritma (Supriatin et al., 2025).

Lebih lanjut, pendidikan dalam perspektif Islam bukan sekadar proses transfer

informasi atau pengetahuan teknis semata (ta'lim), melainkan sebuah upaya komprehensif

penanaman nilai dan karakter (tarbiyah). Oleh karena itu, ketergantungan berlebihan pada

AI dikhawatirkan dapat mematikan daya kritis siswa, membuat mereka malas berpikir

secara mendalam, serta berisiko menghilangkan esensi "keberkahan" yang biasanya

didapat melalui ketulusan interaksi dan adab dalam menuntut ilmu. Ketika ilmu

pengetahuan diperoleh secara instan tanpa proses mujahadah (kesungguhan), maka nilai

sakralitas dari ilmu tersebut cenderung memudar (Jatmiko et al., 2025).

Di sisi lain, integritas akademik kini berada di titik nadir ketika kemudahan akses

AI sering kali memicu perilaku pragmatis dan instan yang bertentangan dengan prinsip

kejujuran dan amanah ilmiah. Munculnya potensi bias informasi dan ancaman terhadap

privasi data pengguna juga menjadi risiko nyata yang dapat mendistorsi pemahaman

keagamaan secara sistemik (Jatmiko et al., 2025). Ketidak mampuan AI dalam memahami

konteks budaya dan sosiologis masyarakat Muslim dapat menghasilkan interpretasi

hukum atau ajaran agama yang kaku dan tidak relevan. Jika algoritma AI tidak disaring

dengan ketat menggunakan prinsip kebenaran ilmiah yang otoritatif dan nilai-nilai Islami

yang moderat, terdapat risiko besar terjadinya penyebaran pemahaman agama yang

dangkal, superfisial, atau bahkan menyimpang dari akidah yang lurus (Fauziyah, 2023).

Selain itu, pengumpulan data besar-besaran oleh sistem AI tanpa regulasi yang jelas

berpotensi melanggar privasi dan kehormatan manusia (hifz al-'irdh). Oleh karena itu,

penjaminan terhadap objektivitas data, validitas sumber rujukan keagamaan, serta

keamanan privasi pengguna harus menjadi prioritas utama. Hal ini diperlukan agar adopsi

teknologi dalam dunia pendidikan Islam tetap menjunjung tinggi martabat manusia dan

tidak justru mengorbankan nilai-nilai akhlak mulia demi sekadar efisiensi teknis (Priyatna

& Maseri, 2025).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar