Dampak Positif Dan Negatif Penggunaan AI Dalam Pendidikan Islam
Menurut Fauziyah (2023) Adapun dampak positif penggunaan AI ialah : 1)
personalisasi pembelajaran, 2) Penilaian Otomatis, 3) Tutor Virtual, 4) Smart Content,
dan 5) Voice Assistant.
1. Personalisasi pembelajaran
AI (Artificial Intelligence) memiliki peran strategis dalam mendukung
personalisasi pembelajaran melalui proses pengumpulan dan analisis data yang berkaitan
dengan kebutuhan, preferensi, serta perkembangan belajar peserta didik secara individual.
Oasis Volume 10 No. 2 Tahun 2026 177
Rosidah Astiawati dkk
Berdasarkan hasil analisis tersebut, AI mampu merancang dan menyajikan pengalaman
pembelajaran yang adaptif dan selaras dengan karakteristik masing-masing peserta didik.
Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk
mengevaluasi tingkat pemahaman dan minat belajar peserta didik secara berkelanjutan.
Dengan demikian, kurikulum dan materi pembelajaran dapat disesuaikan secara lebih
tepat dengan kebutuhan(Huda & Suwahyu, 2024) individu, sehingga proses pembelajaran
berlangsung lebih efektif dan optimal (Yuhana, 2024).
2. Penilaian otomatis
Artificial Intelligence (AI) banyak dimanfaatkan dalam pelaksanaan asesmen dan
penilaian pembelajaran secara otomatis melalui berbagai platform digital. Kehadiran fitur
ini memberikan kemudahan bagi guru dan instruktur dalam merancang serta
melaksanakan kuis maupun evaluasi hasil belajar secara lebih efisien dan praktis. Melalui
dukungan sistem berbasis AI, pendidik tidak lagi harus menyusun instrumen penilaian
dan melakukan koreksi jawaban secara manual, karena proses tersebut dapat dijalankan
secara otomatis sesuai dengan algoritma dan instruksi yang telah diprogramkan, serta
dikembangkan berdasarkan pola penggunaan dan respons peserta di dik. Oleh karena itu,
AI berpotensi besar untuk mengotomatisasi proses penilaian tugas dan ujian dalam mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam secara objektif dan berkelanjutan (Saputri & Alting,
2025).
3. Tutor Virtual
Sistem tersebut beroperasi dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin
(machine learning) yang memungkinkan sistem untuk mengenali pola pembelajaran serta
strategi pengajaran melalui interaksi berkelanjutan dengan peserta didik. Sistem tutor
berbasis AI mampu memberikan umpan balik dan rekomendasi secara otomatis, serta
menyajikan materi dan latihan tambahan guna membantu peserta didik memperdalam
pemahaman terhadap topik pembelajaran tertentu. Dalam konteks Pendidikan Agama
Islam, sistem AI dapat berperan sebagai tutor virtual yang mendukung peserta didik
dalam memahami konsep-konsep keagamaan, merespons pertanyaan secara interaktif,
serta memberikan bimbingan dalam pelaksanaan praktik-praktik ibadah dan nilai-nilai
keislaman (Huda & Suwahyu, 2024) .
4. Smart Content
Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengembangan smart content memberikan
kemudahan dalam proses penelusuran, pengelompokan, dan penemuan materi
pembelajaran serta buku digital yang telah diprogram secara virtual dengan tingkat
kecepatan dan efisiensi yang lebih tinggi. Implementasi teknologi ini banyak dijumpai
pada berbagai platform perpustakaan digital, baik di lingkungan sekolah, perguruan
tinggi, maupun perpustakaan umum. Melalui dukungan sistem berbasis AI, proses
pencarian dan pengkategorian sumber belajar dapat dilakukan secara lebih sistematis dan
terorganisasi. Selain itu, AI juga mampu menyajikan rekomendasi buku dan konten yang
relevan berdasarkan pola pencarian dan kebutuhan pengguna, sehingga mendukung
efektivitas akses terhadap sumber belajar (Masuroh & Mardan, 2025).
5. Voice Assistant
Voice Assistant merupakan salah satu bentuk penerapan kecerdasan buatan yang
telah dikenal luas dan dimanfaatkan dalam berbagai sektor, termasuk bidang pendidikan.
Beberapa contoh Voice Assistant yang umum digunakan antara lain Google Assistant.
Teknologi ini memungkinkan peserta didik untuk mengakses berbagai sumber belajar,
seperti materi pembelajaran, referensi soal, artikel ilmiah, hingga buku yang berkaitan
dengan Pendidikan Agama Islam, melalui perintah suara atau penyebutan kata kunci
tertentu. Dengan demikian, Voice Assistant berkontribusi dalam meningkatkan
kemudahan dan kecepatan akses informasi pembelajaran secara lebih interaktif (Azzahra
et al., 2026).
Pemanfaatan AI (Artificial Intelligence) dalam pembelajaran Pendidikan Islam
memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses
pembelajaran melalui personalisasi materi, penilaian otomatis, tutor virtual,
pengembangan smart content, serta penggunaan voice assistant yang memudahkan akses
informasi. AI memungkinkan pembelajaran yang lebih adaptif sesuai kebutuhan dan
karakteristik peserta didik, serta mempercepat proses evaluasi dan penyediaan umpan
balik. Namun demikian, implementasinya masih memiliki keterbatasan, terutama dalam
mengukur aspek afektif dan spiritual, menjaga validitas materi keagamaan, serta
menghindari ketergantungan teknologi yang berlebihan. Oleh karena itu, AI sebaiknya
dimanfaatkan sebagai sistem pendukung yang melengkapi peran pendidik, bukan
menggantikannya, sehingga pembelajaran tetap mampu menyeimbangkan aspek kognitif,
afektif, dan spiritual.
Selain dari itu penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran tentunya
tidak terlepas dari erbagai potensi dampak negatif diantaranya.
Pemanfaatan AI secara berlebihan dapat menimbulkan ketergantungan peserta
didik terhadap teknologi, yang berimplikasi pada menurunnya kemandirian belajar,
melemahnya inisiatif berpikir kritis, serta berpotensi mengurangi tingkat literasi peserta
didik. Sejalan dengan pandangan Winanda & Prasetio, (2025) bahwa penggunaan AI
dalam pendidikan dapat menyebabkan penurunan kreativitas, serta melehmanya interaksi
pembelajaran dan perubahan pola belajar yang bergantung pada teknologi.
Penggunaan sistem penulisan esai berbasis AI, seperti ChatGPT yang
dikembangkan oleh OpenAI, mengandung risiko terjadinya plagiarisme. Sistem tersebut
dirancang untuk menghasilkan teks berdasarkan perintah atau parameter tertentu,
sehingga berpotensi disalah gunakan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas
akademik tanpa melalui proses berpikir dan refleksi secara mandiri. Selain itu, AI juga
berpotensi mengambil alih sebagian peran guru, khususnya dalam memberikan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan agama dan moralitas (Ali et al., 2023).
Kondisi ini menuntut guru untuk membangun relasi pedagogis yang kuat dengan peserta
didik agar tetap memiliki peran sentral dalam membimbing pemahaman keagamaan dan
nilai-nilai moral, terutama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas.
Risiko Etis Dan Moral: Refleksi Mendalam Terhadap Esensi Pendidikan Islam
Secara lebih kritis, risiko etis dan moral menjadi perhatian utama yang bersifat
reflektif dalam Pendidikan Islam karena kehadiran kecerdasan buatan menyentuh dimensi
spiritual dan batasan kemanusiaan yang tidak dimiliki oleh teknologi manapun.
Fenomena dehumanisasi dalam proses pendidikan menjadi ancaman nyata ketika
interaksi mekanis yang serba otomatis mulai menggantikan kedekatan personal dan
kehangatan batiniah antara pendidik dan peserta didik. Kondisi ini sejalan dengan
kekhawatiran mendalam bahwa AI dapat mereduksi peran guru sebagai Murabbi sosok
yang seharusnya memberikan bimbingan spiritual, pembersihan jiwa (tazkiyatun nufus),
dan keteladanan moral yang nyata (Supriatin et al., 2025). Peran sebagai pendidik dalam
Islam memerlukan keterlibatan jiwa, perasaan, dan simpati yang mustahil direplikasi oleh
barisan kode algoritma (Supriatin et al., 2025).
Lebih lanjut, pendidikan dalam perspektif Islam bukan sekadar proses transfer
informasi atau pengetahuan teknis semata (ta'lim), melainkan sebuah upaya komprehensif
penanaman nilai dan karakter (tarbiyah). Oleh karena itu, ketergantungan berlebihan pada
AI dikhawatirkan dapat mematikan daya kritis siswa, membuat mereka malas berpikir
secara mendalam, serta berisiko menghilangkan esensi "keberkahan" yang biasanya
didapat melalui ketulusan interaksi dan adab dalam menuntut ilmu. Ketika ilmu
pengetahuan diperoleh secara instan tanpa proses mujahadah (kesungguhan), maka nilai
sakralitas dari ilmu tersebut cenderung memudar (Jatmiko et al., 2025).
Di sisi lain, integritas akademik kini berada di titik nadir ketika kemudahan akses
AI sering kali memicu perilaku pragmatis dan instan yang bertentangan dengan prinsip
kejujuran dan amanah ilmiah. Munculnya potensi bias informasi dan ancaman terhadap
privasi data pengguna juga menjadi risiko nyata yang dapat mendistorsi pemahaman
keagamaan secara sistemik (Jatmiko et al., 2025). Ketidak mampuan AI dalam memahami
konteks budaya dan sosiologis masyarakat Muslim dapat menghasilkan interpretasi
hukum atau ajaran agama yang kaku dan tidak relevan. Jika algoritma AI tidak disaring
dengan ketat menggunakan prinsip kebenaran ilmiah yang otoritatif dan nilai-nilai Islami
yang moderat, terdapat risiko besar terjadinya penyebaran pemahaman agama yang
dangkal, superfisial, atau bahkan menyimpang dari akidah yang lurus (Fauziyah, 2023).
Selain itu, pengumpulan data besar-besaran oleh sistem AI tanpa regulasi yang jelas
berpotensi melanggar privasi dan kehormatan manusia (hifz al-'irdh). Oleh karena itu,
penjaminan terhadap objektivitas data, validitas sumber rujukan keagamaan, serta
keamanan privasi pengguna harus menjadi prioritas utama. Hal ini diperlukan agar adopsi
teknologi dalam dunia pendidikan Islam tetap menjunjung tinggi martabat manusia dan
tidak justru mengorbankan nilai-nilai akhlak mulia demi sekadar efisiensi teknis (Priyatna
& Maseri, 2025).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar