Jumat, 02 Januari 2026

Pentingnya Berbakti kepada Orang Tua Menurut Al-Qur’an dan Hadis

 

Berbakti kepada orang tua atau birrul walidain merupakan salah satu kewajiban fundamental dalam Islam, yang kedudukannya sangat tinggi, bahkan diletakkan setelah perintah bertauhid kepada Allah SWT. Implementasi akhlak ini mencakup spektrum luas, mulai dari perkataan yang lembut hingga tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, dan merupakan jalan untuk meraih ridha Allah SWT. 

  • Ayat utama tentang adab kepada orang tua ada di Surat Al-Isra ayat 23-24, yang memerintahkan untuk berbuat baik, tidak berkata kasar (“ah” atau membentak), dan bersikap mulia kepada mereka, serta selalu mendoakan mereka. Ayat penting lainnya adalah Surat Luqman ayat 14-15 tentang bersyukur dan berbakti, serta Surat Al-Ahqaf ayat 15 tentang pengorbanan ibu dan perintah berbakti. 

  1. Surat Al-Isra (17: 23-24)

Arab: وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُ生َ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا. 

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.”. 

  1. Surat Luqman (31: 14) 

Arab: وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ. 

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu.”. 

  1. Surat Al-Ahqaf (46: 15) 

Arab: وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan mencapai umur empat puluh tahun dia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mens

  1. Dasar Hadis tentang Berbakti kepada Orang Tua

Prinsip birrul walidain ditegaskan dalam banyak hadis, salah satunya yang paling masyhur diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim: 

عن عبدِ اللهِ بنِ عمرٍو رضي الله عنهما أنَّ النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم قال: "رِضَا الرَّبِّ في رِضَا الْوَالِدِ، وسَخَطُ الرَّبِّ في سَخَطِ الْوَالِدِ". 

Artinya:

“Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan murka Allah terletak pada murka orang tua’.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). 

Hadis ini secara eksplisit menunjukkan betapa eratnya hubungan antara perlakuan anak terhadap orang tua dengan keridhaan Sang Pencipta, menjadikannya motivasi terbesar bagi seorang Muslim untuk senantiasa berbuat baik. 

Selain itu, berbakti kepada orang tua juga disejajarkan dengan amalan yang paling dicintai Allah setelah shalat tepat waktu, sebagaimana dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: 

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ". 

Artinya:

“Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah’.” (HR. Bukhari dan Muslim). 


  1. Implementasi Akhlak dalam Kehidupan Sehari-hari

Penerapan akhlak terhadap orang tua tidak hanya terbatas pada ketaatan buta, tetapi mencakup sikap, perkataan, dan perbuatan nyata yang didasari rasa hormat, kasih sayang, dan ketulusan. Beberapa bentuk implementasi konkret meliputi: 

  • Bertutur Kata Lembut dan Sopan: Menghindari kata “ah” apalagi membentak mereka adalah perintah langsung Al-Qur’an. Sebaliknya, seorang anak wajib menggunakan bahasa yang santun dan penuh penghormatan dalam setiap interaksi.

  • Membantu Pekerjaan Rumah: Secara proaktif membantu meringankan beban pekerjaan rumah tangga, tanpa perlu diminta, adalah bentuk bakti nyata.

  • Patuh Selama Bukan Maksiat: Mentaati perintah orang tua adalah kewajiban, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam.

  • Menjaga Perasaan dan Tidak Menyia-nyiakan: Berusaha sabar menghadapi sifat orang tua, terutama di usia senja, dan tidak menyakiti hati mereka adalah kunci. Menghargai setiap pengorbanan dan kerja keras yang telah mereka berikan.

  • Mendoakan Mereka: Kewajiban berbakti tetap berlanjut bahkan setelah orang tua meninggal dunia, dengan cara senantiasa mendoakan ampunan dan rahmat bagi mereka.

  • Menyambung Silaturahim: Menjaga hubungan baik dengan kerabat dan teman-teman dekat orang tua juga termasuk cara berbakti setelah mereka tiada. 

  1. Implementasi Akhlak Terhadap Orang Tua 

Implementasi akhlak terhadap orang tua tidak hanya terbatas pada hal-hal besar, melainkan tercermin dalam interaksi sehari-hari. Berikut adalah beberapa bentuk implementasinya:

  1. Berbicara dengan Lembut dan Sopan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 23, melarang kita mengatakan perkataan “ah” atau membentak mereka. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk mengucapkan perkataan yang mulia (qaulan karima). Ini berarti menjaga nada suara, tidak menyela pembicaraan, dan selalu menggunakan bahasa yang santun.

  2. Taat dan Mematuhi Perintah (kecuali dalam maksiat). Ketaatan kepada orang tua adalah wajib, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam. Jika orang tua memerintahkan sesuatu yang maksiat, anak wajib menolak dengan cara yang baik dan tetap menghormati mereka.

  3. Merendahkan Diri dengan Penuh Kasih Sayang. Sikap tawadhu’ (rendah hati) sangat ditekankan di hadapan orang tua, sebagai balasan atas kasih sayang mereka saat membesarkan kita.

  4. Membantu Pekerjaan dan Menyediakan Kebutuhan. Memberi bantuan fisik dalam pekerjaan rumah atau menyediakan makanan merupakan bentuk bakti nyata, terutama saat orang tua telah lanjut usia.

  5. Mendoakan Keduanya. Kewajiban ini terus berlanjut bahkan setelah orang tua meninggal dunia. Doa memohon ampunan dan rahmat bagi mereka adalah salah satu bentuk bakti tertinggi. Doa yang sering diajarkan adalah, “Robbighfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo” (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangiku di waktu kecil).

  6. Menjaga Silaturahmi dan Memuliakan Teman-teman Mereka. Setelah orang tua wafat, menyambung silaturahmi dengan kerabat dan teman-teman dekat mereka juga termasuk amalan berbakti yang sangat dianjurkan.


Kesimpulannya, implementasi akhlak terhadap orang tua adalah manifestasi keimanan yang membawa keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Dimulai dari hati yang tulus, diwujudkan melalui perkataan dan perbuatan yang mulia, serta didasari oleh pemahaman mendalam akan ajaran agama, sebagaimana dituntunkan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar