Jumat, 02 Januari 2026

Melatih Diri Menjadi Ridha dan Bersyukur

 

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai ujian yang membuat hati gelisah. Namun, konsep ridha dan syukur dalam Islam mengajarkan kita untuk menerima ketentuan Allah dengan ikhlas sambil menghargai nikmat yang telah diberikan. Ridha berarti merasa puas dan tenang terhadap segala keputusan Tuhan, sementara syukur adalah cara kita mengungkapkan rasa terima kasih atas karunia-Nya. Melatih diri untuk menjadi ridha dan bersyukur bukanlah hal yang instan, melainkan proses berkelanjutan yang membutuhkan kesadaran dan usaha. Dengan melatihnya, kita bisa mencapai ketenangan batin, mengurangi keluhan, dan memperkuat iman.

    Langkah pertama dalam melatih ridha adalah memahami bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Al-Qur'an menyatakan dalam surah Al-Baqarah ayat 155-157 bahwa ujian seperti kemiskinan, kehilangan, atau kesulitan adalah cara Tuhan menguji keimanan kita. Untuk melatihnya, mulailah dengan muhasabah diri setiap malam. Renungkan apa yang terjadi hari itu: apakah ada hal buruk yang justru membawa pelajaran? Misalnya, kegagalan dalam pekerjaan bisa menjadi ridha jika kita sadar itu membuka jalan baru yang lebih baik. Praktikkan dzikir seperti membaca "Alhamdulillah 'ala kulli hal" (segala puji bagi Allah atas segala keadaan) untuk membiasakan hati menerima tanpa protes. Secara bertahap, ini akan mengubah pola pikir dari "mengapa saya?" menjadi "apa hikmahnya bagi saya?

    Selanjutnya, syukur harus diintegrasikan dalam rutinitas harian. Syukur bukan hanya ucapan, tapi tindakan nyata. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang bersyukur akan ditambahkan nikmatnya (QS. Ibrahim: 7). Mulailah dengan jurnal syukur: setiap pagi, tulis tiga hal yang kamu syukuri, seperti kesehatan, keluarga, atau bahkan udara segar. Saat menghadapi kesulitan, ingat nikmat kecil yang masih ada. Contohnya, jika sakit, syukuri bahwa kamu punya akses ke obat atau dukungan orang terdekat. Ini melatih otak untuk fokus pada positif, bukan kekurangan. Gabungkan dengan shalat sunnah syukur setelah mendapat rezeki, agar rasa terima kasih menjadi bagian dari ibadah.

    Kombinasi ridha dan syukur juga bisa dilatih melalui lingkungan sosial. Bergaulah dengan orang-orang yang positif dan religius, ikuti kajian tentang sabar dan qana'ah. Hindari membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, karena itu sering memicu ketidakridhaan. Sebaliknya, lakukan amal seperti sedekah, yang menurut hadits akan membersihkan hati dari keluh kesah. Saat ujian datang, seperti kehilangan pekerjaan, katakan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" sambil bersyukur atas pengalaman sebelumnya. Proses ini membangun ketahanan mental, membuat kita lebih bahagia meski dalam keterbatasan.

    Tantangan utama adalah konsistensi. Kadang, emosi negatif muncul tiba-tiba, tapi ingat, ridha dan syukur adalah jihad nafsu. Dengan doa seperti "Ya Allah, jadikanlah aku ridha terhadap qadha-Mu," kita memohon pertolongan-Nya. Lama-kelamaan, hati akan terlatih: kegagalan jadi pelajaran, nikmat kecil jadi sumber kebahagiaan. Akhirnya, menjadi ridha dan bersyukur bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga menginspirasi orang sekitar. Bayangkan, jika semua orang melatih ini, masyarakat akan lebih harmonis dan damai.

    Dengan demikian, melatih ridha dan syukur adalah investasi jiwa yang tak ternilai. Mulailah hari ini, dan rasakan bagaimana hidup menjadi lebih ringan. Allah SWT berfirman, "Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu" (QS. Ibrahim: 7). Mari kita jadikan ini sebagai komitmen seumur hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar