Jumat, 02 Januari 2026

Beriman kepada Allah SWT dan Hikmahnya

 

    Beriman kepada Allah SWT merupakan dasar utama dalam ajaran Islam dan menjadi rukun iman yang pertama. Iman kepada Allah berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang Maha Esa, tidak memiliki sekutu, dan berhak disembah. Keyakinan ini mencakup kepercayaan terhadap keberadaan Allah, keesaan-Nya (tauhid), serta sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Keimanan kepada Allah tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan, tetapi harus diyakini dalam hati dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari sesuai dengan perintah dan larangan-Nya.

Allah SWT menegaskan keesaan-Nya dalam firman-Nya:

(QS. Al-Baqarah: 255)

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَىُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوۡمٌۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡعَظِيمُ


Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

    Ayat ini menunjukkan bahwa Allah adalah satu-satunya penguasa alam semesta yang mengatur seluruh kehidupan makhluk-Nya. Beriman kepada Allah juga berarti meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari kehendak dan ketetapan-Nya. Dengan iman yang kuat, seorang muslim akan senantiasa menyadari bahwa hidup ini memiliki tujuan, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT.

  • (QS. Az-Zariyat: 56)

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ


Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

    Hikmah beriman kepada Allah SWT sangat besar dan berpengaruh dalam kehidupan manusia. Salah satu hikmah utama adalah memberikan ketenangan dan ketenteraman hati. Orang yang beriman akan merasa aman dan tenang karena yakin bahwa Allah selalu bersamanya, mengawasi, serta melindunginya. Ketika menghadapi masalah atau cobaan hidup, orang yang beriman tidak mudah putus asa karena percaya bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya.“(QS. Al-Baqarah: 286):

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرًا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

    Selain itu, iman kepada Allah menumbuhkan sikap sabar dan tawakal. Seorang mukmin akan berusaha semaksimal mungkin dalam menjalani kehidupan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Sikap tawakal ini membuat seseorang tidak sombong ketika berhasil dan tidak berputus asa ketika gagal, karena menyadari bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah.

    Hikmah lainnya adalah terbentuknya akhlak yang mulia. Orang yang benar-benar beriman kepada Allah akan terdorong untuk berbuat baik, jujur, amanah, dan adil dalam kehidupan bermasyarakat. Ia sadar bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak di akhirat. “(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَرَهُۥ

وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ


Artinya:

7. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

8. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

    Iman kepada Allah juga menjadi pedoman hidup bagi manusia. Dengan beriman, seseorang akan memiliki arah dan tujuan hidup yang jelas, tidak mudah terpengaruh oleh perbuatan yang menyimpang, serta mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Keimanan menjadikan manusia lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitarnya.

    Selain itu, iman kepada Allah SWT memberikan harapan akan kehidupan akhirat yang lebih baik. Seorang mukmin yakin bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Keyakinan ini mendorong manusia untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa.

  • “(QS. Al-Hadid: 20)

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٌ وَلَهۡوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرُ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًاۖ وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغۡفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٌۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menjadi kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

    Dengan demikian, beriman kepada Allah SWT memiliki hikmah yang sangat besar dalam membentuk kepribadian manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta memiliki ketenangan jiwa. Iman kepada Allah menjadi pondasi utama dalam menjalani kehidupan agar senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar