Akidah merupakan aspek paling mendasar dalam ajaran Islam karena berkaitan langsung dengan keyakinan dan keimanan seorang muslim kepada Allah SWT. Akidah menjadi landasan bagi seluruh amal perbuatan, sikap, dan perilaku manusia. Apabila akidah seseorang benar dan kuat, maka ibadah dan akhlaknya pun akan baik. Sebaliknya, akidah yang lemah atau menyimpang dapat menyebabkan kesalahan dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Oleh karena itu, Islam menetapkan sumber akidah yang jelas dan terpercaya, yaitu Al-Qur’an dan Hadis.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril. Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman hidup bagi umat manusia dan menjadi sumber utama dalam seluruh aspek ajaran Islam, termasuk akidah. Di dalam Al-Qur’an terkandung ajaran tauhid yang menegaskan keesaan Allah SWT, serta larangan keras terhadap segala bentuk kemusyrikan. Selain itu, Al-Qur’an juga menjelaskan rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qadha dan qadar. Semua prinsip keimanan ini disampaikan secara jelas dan menjadi dasar keyakinan umat Islam.
Selain sebagai sumber akidah, Al-Qur’an juga menegaskan tujuan penciptaan manusia, hakikat kehidupan di dunia, serta balasan di akhirat. Penjelasan ini memperkuat keyakinan seorang muslim bahwa kehidupan tidak hanya berakhir di dunia, melainkan berlanjut di akhirat. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an, umat Islam memiliki pedoman yang kokoh dalam membangun keimanan yang lurus dan tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang menyesatkan.
Namun, pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari Hadis. Hadis merupakan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan beliau. Hadis berfungsi sebagai penjelas, perinci, dan penguat ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an. Banyak ayat Al-Qur’an yang bersifat umum dan global, sehingga membutuhkan penjelasan lebih lanjut melalui Hadis agar dapat dipahami dan diamalkan dengan benar.
Dalam konteks akidah, Hadis menjelaskan secara rinci berbagai persoalan keimanan, seperti sifat-sifat Allah, tanda-tanda hari kiamat, kehidupan di alam kubur, serta balasan surga dan neraka. Hadis juga memberikan contoh konkret bagaimana Nabi Muhammad SAW mengajarkan dan menanamkan akidah kepada para sahabatnya. Dengan demikian, Hadis menjadi sumber yang sangat penting dalam memperjelas ajaran akidah yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Hubungan antara Al-Qur’an dan Hadis bersifat saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Al-Qur’an menjadi sumber utama dan pokok ajaran Islam, sedangkan Hadis berfungsi sebagai penjelas dan penguatnya. Keduanya menjadi landasan utama dalam membentuk akidah yang benar sesuai dengan ajaran Islam. Tanpa berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadis, pemahaman akidah dapat menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sumber utama akidah dalam Islam adalah Al-Qur’an dan Hadis. Keduanya merupakan pedoman yang harus dijadikan dasar dalam membangun keyakinan yang kuat, lurus, dan benar. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadis, umat Islam diharapkan mampu memiliki keimanan yang kokoh serta menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Islam yang diridhai oleh Allah SWT.
surah Al-Baqarah ayat 163:
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُࣖ ١٦٣
wa ilâhukum ilâhuw wâḫid, lâ ilâha illâ huwar-raḫmânur-raḫîm
Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar