Keadilan Allah merupakan salah satu sifat fundamental dalam memahami hubungan antara Sang Pencipta dengan makhluk-Nya. Sifat Al-'Adl menunjukkan bahwa Allah tidak pernah berbuat zalim kepada siapapun. Secara etimologi, kata al-'adl berarti keadilan dan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Para ulama tafsir mendefinisikan Al-'Adl sebagai sifat Allah yang menunjukkan bahwa Dia menempatkan segala sesuatu pada proporsi yang tepat tanpa mengurangi hak siapapun.
Al-Qur'an menyebutkan sifat keadilan Allah dalam berbagai ayat. Dalam Surah An-Nisa ayat 40 Allah berfirman:
إِ ن ٱ للهَ هل يهظْلِ م مِثْقها هل ذه رة„ ۖ هوإِن ته ك هح هسنهة˝ ي َٰ هضعِفْ هها هوي ؤْتِ مِن ل د نْه أهجْ ˝را هعظِي ˝ما
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar."
Dalam Surah Al-Anbiya ayat 47 Allah berfirman:
هونه هض ع ٱلْ هم َٰ هوزِي هن ٱلْقِسْ هط لِيهوْمِ ٱلْقَِٰيه همةِ فه هل ت ظْله م نهفْ س هشيْـًٔا ۖ هوإِن هكا هن مِثْقها هل هحب „ة ِ'منْ هخرْده „ل أهتهيْنها بِ هها ۗ هو هكفهَٰى بِنها َٰ هحسِبِي هن
Artinya: "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiada seorangpun akan dianiaya sedikitpun. Dan jika amalan itu hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan pahalanya."
Dalam Surah Yunus ayat 44 Allah berfirman:
إِ ن ٱ للهَ هل يهظْلِ م ٱلن ا هس هشيْـًٔا هوَٰلهكِ ن ٱلن ا هس أهنف هس همْ يهظْلِ مو هن
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak menganiaya manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang menganiaya diri mereka sendiri."
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keadilan Allah bersifat mutlak dan tidak dapat dipertanyakan. Semua perbuatan dan ketetapan Allah adalah manifestasi dari keadilan- Nya yang sempurna. Allah tidak akan mengurangi pahala kebaikan seseorang meskipun hanya seberat atom. Beliau juga menegaskan bahwa manusia tidak berhak mempertanyakan keadilan Allah karena keterbatasan akal dan pengetahuan mereka.
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa keadilan Allah mencakup seluruh aspek kehidupan di dunia dan akhirat. Allah tidak pernah membebani jiwa kecuali sesuai kemampuannya. Keadilan Allah tercermin dalam sistem syariat yang diturunkan kepada manusia. Setiap hukum Islam mengandung keadilan yang sempurna meskipun terkadang manusia tidak mampu memahami hikmah di baliknya.
Imam Al-Thabari menjelaskan bahwa sifat Al-'Adl merupakan konsekuensi logis dari kesempurnaan sifat-sifat Allah lainnya. Keadilan Allah berlaku universal tanpa perbedaan status sosial, ras, atau kebangsaan. Timbangan di hari kiamat adalah timbangan yang benar- benar adil.
Sayyid Quthb menjelaskan bahwa keadilan Allah tidak hanya terbatas pada pembalasan di akhirat tetapi juga mencakup sistem kehidupan di dunia. Hukum-hukum alam yang diciptakan Allah merupakan manifestasi keadilan-Nya. Manusia memiliki tanggung jawab untuk menegakkan keadilan sebagai cerminan dari sifat Allah.
Muhammad Abduh menekankan bahwa pemahaman tentang keadilan Allah harus didasarkan pada akal dan wahyu secara seimbang. Allah menciptakan manusia dengan kemampuan akal untuk memahami prinsip-prinsip keadilan. Penerapan prinsip keadilan dalam kehidupan sosial dan politik sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang adil.
Hamka menjelaskan bahwa keadilan Allah dapat dipahami melalui pengamatan terhadap fenomena alam dan kehidupan sosial. Beliau memberikan contoh konkret bagaimana keadilan Allah termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari. Kezaliman yang terjadi di masyarakat adalah akibat penyimpangan manusia terhadap prinsip keadilan Allah.
Pemahaman tentang keadilan Allah memberikan hikmah berharga bagi kehidupan Muslim. Kesadaran ini memperkuat keimanan dan memotivasi untuk berbuat baik. Pemahaman ini juga mendorong untuk menegakkan keadilan dalam bermasyarakat. Sifat Al-'Adl adalah sifat fundamental yang harus dipahami dan diteladani oleh setiap Muslim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar