Sabtu, 20 Desember 2025

STRATEGI MEMANFAATKAN KETERBATASAN MEDIA

“STRATEGI MEMANFAATKAN KETERBATASAN MEDIA”

Di era komunikasi modern yang dikuasai oleh kemajuan teknologi seperti sekarang, ketersediaan media sering kali dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan penyampaian informasi. Namun, tidak semua individu, organisasi, atau sekolah memiliki akses yang merata terhadap media yang lengkap dan canggih. Keterbatasan tersebut dapat timbul karena  beberapa faktor seperti kurangnya infrastruktur yang memadai, biaya yang tinggi, atau kesulitan akses di daerah tertentu (A. Telaumbanua, 2020). Keterbatasan media baik dalam bentuk infrastruktur, biaya, maupun kapasitas sumber daya manusia bukanlah sebuah hambatan yang harus dihindari, melainkan tantangan yang dapat diolah menjadi peluang. Dengan strategi yang tepat, keterbatasan media justru dapat memicu kreativitas, efisiensi, dan inovasi dalam proses komunikasi. Salah satu strategi penting dalam memanfaatkan keterbatasan media adalah pengoptimalan penggunaan media yang sudah tersedia. Daripada berfokus pada apa yang tidak dimiliki, lebih efektif untuk menggali potensi alat atau platform yang ada. 

Hasil belajar bagi siswa dapat ditingkatkan dengan penggunaan media pendidikan dalam proses belajar mengajar. Kekuatan media untuk mengungkapkan pesan pembelajaran dengan lebih jelas adalah salah satu manfaat utamanya. Pengajaran lisan terkadang dapat meninggalkan pemahaman siswa yang tidak lengkap, khususnya jika seorang guru tidak menyajikan informasi dengan jelas. Di sinilah peran media sangat penting sebagai alat untuk meningkatkan penjelasan pesan pembelajaran. Dengan demikian, kemampuan guru untuk berkreasi dan memilih, menciptakan, serta menggunakan berbagai media sangat penting untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini mungkin berdampak pada sifat dan metode pembelajaran serta memotivasi siswa untuk terlibat lebih penuh dan antusias dalam proses tersebut. Perencanaan yang cermat dan bijaksana adalah salah satu komponen terpenting dalam penggunaan media yang efektif. Instruktur dan media adalah dua faktor yang paling penting dalam pendidikan dan pengajaran di kelas. karena fakta bahwa itu memfasilitasi prosedur penyampaian.

Sebagai seorang pendidik, peran guru sangatlah krusial dalam memfasilitasi transfer ilmu pengetahuan dan bahan ajar kepada para siswa. Siswa berperan sebagai penimba ilmu yang memerlukan informasi dan pesan yang disampaikan oleh guru agar dapat dipelajari, dikuasai, didalami, dan diterapkan sebagai bekal dalam menyelesaikan pendidikan di masa mendatang. Namun, tugas seorang guru tidak hanya sebatas sebagai penyampai informasi semata. Guru dapat memberikan dukungan kepada siswa dalam mengatasi kesulitan  belajar melalui cara mengidentifikasi keterbatasan yang dimiliki dan mengembangkan strategi yang sesuai untuk menolong siswa mengatasi kesulitan tersebut (A.  Telaumbanua, 2020).  Oleh sebab itu, peran guru penting membantu  siswa  mengatasi tantangan atau kesulitan  dalam belajar  melalui  cara mengidentifikasi keterbatasan guru dan mengembangkan strategi yang sesuai untuk membantu siswa dalam mengatasi kesulitan tersebut (Abdullah, 2017).

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di sekolah SMP Yayasan perguruan Bandung menunjukkan bahwa kreativitas guru dalam menghadapi keterbatasan media pembelajaran IPS di SMP Swata Bandung sangat berperan penting, para guru merancang media dengan pembuat peta, infokus, metode belajar sambil bermain dan metode diskusi. Guru harus memutar otak bagaimana caranya agar siswa dapat belajar sesuai dengan teknologi walaupun ditengah keterbatasan. Sehingga peserta didik dapat mengemban pendidikan sebagaimana semestinya. Guru harus pandai memadakan yang ada atau menciptakan hal-hal baru, seorang guru tidak boleh patah semangat dan tidak mengabaikan tugasnya sebagai guru. Guru yang profesional pasti bisa lebih kreatif ditengah adanya keterbatasan media yang ada disekolah. Kreativitas seorang guru adalah kemampuannya untuk menghasilkan ide-ide baru dan solusi-solusi inovatif dalam menghadapi situasi yang mungkin belum pernah dialami sebelumnya. Guru yang kreatif mampu memanfaatkan berbagai sumber belajar untuk mengembangkan metode pembelajaran yang menarik dan efektif bagi siswa-siswanya. Mereka mampu menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah secara keseluruhan. (Abdurrahman 2011: 165)

Dengan  demikian  di  tengah  globalisasi  dan  pesatnya  teknologi  informasi,  maka pendidikan tidak bisa lepas dari sarana internet sebagai media pembelajaran, namun Internet sebagai media  pembelajaran  memiliki  keterbatasan, baik  dari segi aksebilitas,  keterbatasan infrastruktur maupun dari keterbatasan sumber daya manusia yang ada, sehingga belum semua guru khususnya  di pelosok nusantara dapat mengakses internet sebagai sarana pembelajaran, Oleh karena itu guru tetap harus dituntut kreatif di tengah keterbatasan internet. Adapun strategi peningkatakan kreatifitas guru ditengah keterbatasan internet dapat dilakukan dengan: Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, menerapkan metode pembelajaran yang inovatif, membangun  kolaborasi  dengan  guru  lain,  menyediakan  materi  pembelajaran  alternatif, menggunakan media offline, membatasi penggunaan internet, memanfaatkan teknologi tanpa internet. dan mengoptimalkan waktu internet serta membuat forum diskusi.

Dapat kita simpulkan bahwa keterbatasan media dalam pembelajaran bukanlah penghalang untuk menciptakan proses belajar yang efektif dan bermakna. Dengan strategi optimalisasi media sederhana, kolaborasi, kreativitas guru, pembelajaran berbasis proyek, serta penguatan literasi media, keterbatasan dapat diubah menjadi peluang untuk berinovasi. Kualitas pembelajaran tidak hanya bergantung pada kelimpahan sarana, tetapi pada kemampuan pendidik dalam mengelola potensi yang ada secara kreatif dan bijaksana. Pandangan ini menunjukkan bahwa upaya mengoptimalkan media yang sederhana membutuhkan perubahan cara berpikir dan kreativitas dari para pendidik. Dalam konteks ini, relevan dengan firman Allah swt dalam QS. Ar-Ra’d: 11 yang berbunyi :

…إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ…  ١١

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa peninngkatan kualitas pembelajaran tidak hanya bergantung pada  kelengkapan sarana  saja, tetapi juga terletak pada usaha guru untuk berinovasi dan berusaha dalam mengelola keterbatasan yang ada.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar