Dalam ajaran Islam, akidah menempati posisi yang sangat fundamental karena berkaitan langsung dengan keyakinan seseorang terhadap Allah Swt. Akidah yang lurus akan melahirkan ibadah dan perilaku yang benar, sedangkan akidah yang menyimpang dapat menyeret manusia kepada perbuatan syirik. Salah satu bentuk penyimpangan akidah yang masih marak terjadi di tengah masyarakat adalah praktik ritual perdukunan. Perdukunan sering kali dibungkus dengan tradisi, ritual, atau bahkan modernisasi, sehingga tidak sedikit umat Islam yang terjebak tanpa menyadari bahwa perbuatan tersebut termasuk dalam kemusyrikan.
Istilah perdukunan berasal dari kata dukun yang berarti tukang ramal. Dalam bahasa Arab, perdukunan sepadan dengan istilah kahana, yaitu usaha menyelesaikan persoalan dengan cara gaib, sementara pelakunya disebut kāhin. Dukun atau kāhin adalah orang yang mengaku mengetahui hal-hal gaib, baik yang akan terjadi di masa depan maupun hal-hal yang tersembunyi di dalam hati seseorang. Selain istilah kāhin, dikenal pula istilah ’arrāf (tukang ramal) dan munajjim (ahli nujum). Menurut Ibnu Taimiyah, ketiga istilah tersebut memiliki makna yang sama, yaitu orang-orang yang mengklaim pengetahuan gaib melalui bantuan selain Allah Swt.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدِ افْتَـرٰۤى اِثْمًا عَظِيْمًا
innalloha laa yaghfiru ay yusyroka bihii wa yaghfiru maa duuna zaalika limay yasyaaa, wa may yusyrik billaahi fa qodiftarooo isman 'azhiimaa
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 48)
Mempercayai dukun atau mengikuti ritual perdukunan berarti menyandarkan harapan dan ketergantungan kepada selain Allah, yang pada hakikatnya merupakan bentuk kemusyrikan. Praktik perdukunan sering kali disertai ritual tertentu, seperti penggunaan sesajen, mantra, jimat, atau perjanjian gaib, yang semakin memperjelas unsur syirik di dalamnya. Seiring perkembangan zaman, praktik perdukunan tidak lagi terbatas pada masyarakat tradisional. Saat ini, fenomena perdukunan telah mengalami modernisasi dan digitalisasi. Perdukunan digital hadir melalui media sosial, situs daring, hingga aplikasi pesan singkat. Para pelaku perdukunan tidak lagi menggunakan sebutan dukun, melainkan mengganti identitas mereka dengan istilah yang terdengar lebih modern dan terhormat, seperti paranormal, orang pintar, ahli spiritual, atau penasihat spiritual. Penampilan mereka pun jauh dari kesan angker, bahkan menyerupai kalangan profesional dengan jas, dasi, dan fasilitas mewah.
Modernisasi perdukunan ini menjadikan praktik syirik semakin sulit dikenali. Banyak orang menganggapnya sebagai solusi alternatif atas persoalan hidup, mulai dari masalah rezeki, perjodohan, keselamatan, hingga jabatan dan karier. Tidak jarang, kalangan terpelajar, pengusaha, pejabat, bahkan anak muda ikut terlibat dalam praktik ini. Fenomena seperti ungkapan “cinta ditolak, dukun bertindak” menjadi bukti bahwa perdukunan telah dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari, padahal secara akidah sangat berbahaya.
Jika fenomena ini dibiarkan tanpa perhatian serius, maka perdukunan dapat merusak akidah umat Islam secara perlahan namun pasti. Di sinilah peran agama dan para tokohnya sangat dibutuhkan untuk melakukan upaya pemurnian akidah (purifikasi). Umat perlu disadarkan bahwa segala bentuk ritual perdukunan, baik yang tradisional maupun modern, merupakan kesyirikan besar yang dapat membatalkan tauhid. Ketergantungan kepada dukun sama saja dengan meragukan kekuasaan dan kehendak Allah Swt.
Dengan demikian, ritual dan praktik perdukunan merupakan bentuk kemusyrikan yang nyata, meskipun sering kali dibungkus dengan istilah modern dan tampilan yang meyakinkan. Umat Islam dituntut untuk memiliki pemahaman akidah yang kuat agar tidak mudah tergiur oleh janji-janji gaib yang menyesatkan. Hanya kepada Allah Swt. tempat bergantung dan memohon pertolongan. Menjaga kemurnian tauhid berarti menjaga keselamatan iman, baik di dunia maupun di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar