Qadha dan qadar merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap Muslim. Beriman kepada qadha dan qadar berarti meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT. Qadha adalah ketetapan Allah SWT sejak zaman azali mengenai segala sesuatu, sedangkan qadar adalah pelaksanaan dari ketetapan tersebut sesuai dengan kehendak dan ilmu Allah SWT. Keyakinan terhadap qadha dan qadar memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT menegaskan tentang ketentuan-Nya dalam firman-Nya:
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا ۚ هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
(QS. At-Taubah: 51)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa segala peristiwa yang dialami manusia tidak terlepas dari ketentuan Allah SWT. Oleh karena itu, seorang Muslim diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah setelah melakukan usaha. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini tercermin ketika seseorang bersungguh-sungguh dalam belajar, bekerja, dan beramal, namun tetap menerima hasil akhirnya dengan lapang dada sebagai bagian dari ketetapan Allah SWT.
Pemahaman qadha dan qadar mengajarkan manusia untuk menyeimbangkan antara ikhtiar dan tawakal. Islam tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa usaha, melainkan mendorong umatnya untuk berusaha secara maksimal sesuai kemampuan yang dimiliki. Usaha yang dilakukan manusia merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT, sedangkan tawakal merupakan sikap berserah diri kepada-Nya setelah segala upaya dilakukan. Dengan keseimbangan ini, seorang Muslim tidak mudah putus asa ketika mengalami kegagalan dan tidak sombong ketika meraih keberhasilan.
Selain itu, iman kepada qadha dan qadar membentuk sikap sabar dan ikhlas dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Ketika seseorang ditimpa musibah, kegagalan, atau kesulitan, ia menyadari bahwa semua itu merupakan ketentuan Allah SWT yang mengandung hikmah. Sikap sabar membantu manusia tetap tegar dan tidak berkeluh kesah secara berlebihan, sedangkan ikhlas membuat hati menjadi tenang dan menerima kenyataan dengan penuh keimanan. Sebaliknya, ketika memperoleh nikmat seperti kesehatan, rezeki, dan kesuksesan, iman kepada qadha dan qadar mendorong seseorang untuk bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah SWT.
Rasulullah SAW menegaskan pentingnya iman kepada qadha dan qadar dalam sabdanya:
وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa seorang Muslim wajib meyakini qadar Allah SWT, baik yang dianggap baik maupun yang dianggap buruk. Keyakinan ini membentuk pribadi yang optimis, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyalahkan takdir atas kesalahan yang dilakukan. Seorang Muslim akan melakukan introspeksi diri serta berusaha memperbaiki sikap dan perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sosial, pemahaman qadha dan qadar menumbuhkan sikap toleransi, empati, dan saling menghargai. Manusia menyadari bahwa perbedaan kondisi ekonomi, kemampuan, dan latar belakang merupakan ketentuan Allah SWT. Kesadaran ini mendorong terciptanya kehidupan bermasyarakat yang harmonis, saling membantu, dan penuh kepedulian terhadap sesama.
Selain itu, pemahaman yang benar tentang qadha dan qadar dapat membentuk kepribadian yang lebih tenang dan bijaksana dalam mengambil keputusan hidup. Seorang Muslim akan lebih berhati-hati dalam bertindak karena menyadari bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Keyakinan terhadap ketentuan Allah SWT juga menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian dalam menghadapi tantangan hidup, tanpa rasa takut berlebihan terhadap masa depan. Dengan iman kepada qadha dan qadar, manusia belajar menerima kenyataan dengan lapang dada, namun tetap berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, qadha dan qadar bukanlah ajaran yang membuat manusia pasif, melainkan menjadi landasan spiritual yang membimbing manusia untuk berikhtiar, bersabar, bersyukur, dan bertawakal kepada Allah SWT. Penerapan iman kepada qadha dan qadar dalam kehidupan sehari-hari akan membentuk kepribadian Muslim yang kuat, matang secara spiritual, dan siap menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar