Di era globalisasi ini, media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, menawarkan kemudahan komunikasi dan akses informasi tanpa batas. Namun, di balik manfaatnya, media sosial juga membawa dampak negatif yang signifikan terhadap perilaku dan akhlak penggunanya, terutama jika tidak digunakan secara bijak. Menjaga akhlak mahmudah (akhlak terpuji) di dunia digital menjadi tantangan tersendiri. Akhlak mahmudah, yang berarti perbuatan terpuji atau baik, adalah tuntunan Nabi Muhammad SAW untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Materi ini akan membahas pentingnya menjaga akhlak mulia dalam bermedia sosial berdasarkan perspektif Islam.
Perkembangan media sosial pada era digital membawa dampak besar dalam kehidupan manusia, terutama bagi generasi muda. Media sosial dapat menjadi sarana informasi, komunikasi, dan dakwah, namun di sisi lain juga berpotensi memengaruhi perilaku dan akhlak seseorang. Oleh karena itu, menjaga akhlak mahmudah (akhlak terpuji) menjadi sangat penting agar individu tidak terjerumus pada pengaruh negatif media sosial yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Dalam Islam, akhlak merupakan bagian penting dari keimanan. Rasulullah saw. diutus ke muka bumi salah satunya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak mahmudah seperti jujur, santun, rendah hati, sabar, dan menjaga lisan harus tetap dijaga meskipun seseorang aktif di media sosial.
Pentingnya Akhlak Mahmudah dalam Islam
Rasulullah SAW diutus ke dunia salah satunya untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini menunjukkan betapa sentralnya peran akhlak dalam ajaran Islam. Hadis riwayat Al-Baihaqi menegaskan hal ini:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
Terjemahannya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Al-Baihaqi).
Hadis lain juga menekankan bahwa akhlak yang baik adalah amalan yang paling berat dalam timbangan di akhirat kelak.
Dampak Media Sosial Terhadap Akhlak
Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat mengarah pada akhlakul mazmumah (akhlak tercela), seperti menyebarkan hoaks, ghibah (menggunjing), fitnah, ujaran kebencian, bahkan perundungan siber (cyberbullying). Sikap-sikap ini bertentangan langsung dengan prinsip-prinsip komunikasi Islam yang mengedepankan kedamaian, keramahan, dan keselamatan.
Panduan Menjaga Akhlak Mahmudah di Media Sosial
Islam memberikan panduan jelas dalam berkomunikasi, termasuk di ranah digital. Prinsip utamanya adalah menjaga lisan dan perkataan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 83:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Terjemahannya: “dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (QS. Al-Baqarah: 83).
Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta menghindari perkataan yang menyakiti hati orang lain.
Berikut adalah beberapa cara praktis menjaga akhlak mahmudah saat bermedia sosial:
Berpikir Sebelum Mengunggah (Tabayun): Melakukan kroscek fakta sebelum menyebarkan informasi sangat penting untuk menghindari hoaks dan fitnah.
Menghormati Privasi dan Opini Orang Lain: Menghindari prasangka buruk (su’udzon) dan menghargai perbedaan pendapat adalah cerminan akhlak mulia.
Membatasi Penggunaan: Mengatur waktu daring (online) membantu mencegah kecanduan dan memungkinkan kita untuk melakukan aktivitas di luar ruangan atau berinteraksi secara langsung.
Menyebarkan Kebaikan: Jadikan media sosial sebagai sarana dakwah dan berbagi informasi bermanfaat, sesuai dengan hadis:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Terjemahannya: “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).
Menjaga akhlak mahmudah di tengah arus deras informasi media sosial adalah sebuah keharusan bagi seorang Muslim. Dengan berpegang teguh pada etika komunikasi Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis, kita dapat memanfaatkan media sosial secara bijak, menjauhi perilaku tercela, dan menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri dan menyebarkan kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar