Penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran merupakan keniscayaan di era digital. Multimedia mencakup teks, gambar, audio, video, animasi, dan interaksi digital yang digunakan secara terpadu untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Setiap peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, seperti visual, auditori, dan kinestetik. Perbedaan ini menuntut pendidik untuk tidak menggunakan satu pendekatan tunggal, melainkan memadukan berbagai media agar pesan ilmu dapat diterima secara optimal oleh seluruh peserta didik
Al-Qur’an sendiri memberikan isyarat bahwa manusia diciptakan dengan potensi dan cara menerima ilmu yang beragam. Allah SWT berfirman:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)
Ayat ini menunjukkan bahwa pendengaran (auditori), penglihatan (visual), dan hati/akal (kognitif-afektif) adalah sarana utama manusia dalam memperoleh pengetahuan. Multimedia pada hakikatnya mengoptimalkan ketiga potensi tersebut secara bersamaan.
Bagi peserta didik dengan gaya belajar visual, penggunaan gambar, diagram, infografik, dan video sangat membantu pemahaman. Visualisasi konsep yang abstrak menjadi lebih konkret sehingga mudah dipahami dan diingat. Al-Qur’an sendiri sering menggunakan perumpamaan visual agar manusia mudah memahami pesan-Nya, sebagaimana firman Allah:
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (QS. Al-Hasyr: 21)
Penggunaan multimedia visual sejalan dengan metode Al-Qur’an dalam menyampaikan pesan melalui perumpamaan dan gambaran yang dapat direnungkan.
Sementara itu, peserta didik dengan gaya belajar auditori lebih mudah memahami materi melalui suara, penjelasan lisan, diskusi, dan audio pembelajaran. Islam sangat menekankan pentingnya mendengar dengan baik sebagai jalan memperoleh ilmu. Allah SWT berfirman:
فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
“Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya.” (QS. Az-Zumar: 17–18)
Ayat ini menegaskan bahwa proses mendengar merupakan tahapan penting sebelum memahami dan mengamalkan. Multimedia berbasis audio, seperti podcast pembelajaran, rekaman materi, atau video dengan penjelasan lisan, sangat relevan untuk gaya belajar ini.
Adapun peserta didik dengan gaya belajar kinestetik membutuhkan keterlibatan aktif, praktik langsung, dan interaksi. Multimedia interaktif, simulasi digital, kuis interaktif, dan proyek berbasis teknologi dapat menjembatani kebutuhan ini. Prinsip pembelajaran aktif ini selaras dengan ajaran Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk beramal dan mempraktikkan ilmu, bukan hanya mengetahui secara teoritis. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)
Ayat ini menunjukkan pentingnya keterlibatan perbuatan (praktik) sebagai bagian dari proses internalisasi ilmu.
Penggunaan multimedia yang memadukan berbagai gaya belajar juga mencerminkan prinsip keadilan dalam pendidikan. Setiap peserta didik diberi kesempatan yang sama untuk memahami materi sesuai dengan karakteristiknya. Islam sangat menjunjung tinggi prinsip ini, sebagaimana firman Allah:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Dengan multimedia, pendidik dapat menyesuaikan beban dan cara penyampaian materi agar sesuai dengan kemampuan dan gaya belajar peserta didik.
Selain itu, multimedia dapat menumbuhkan motivasi belajar, rasa ingin tahu, dan refleksi mendalam. Ketika pembelajaran disajikan secara menarik dan variatif, peserta didik terdorong untuk berpikir, bertanya, dan menggali lebih dalam. Hal ini sejalan dengan perintah Al-Qur’an untuk terus berpikir dan merenung:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Ayat ini menekankan pentingnya proses berpikir mendalam (tadabbur), yang dapat difasilitasi melalui multimedia yang tepat dan variatif.
Dengan demikian, penggunaan multimedia dalam pembelajaran bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi memiliki landasan filosofis dan spiritual yang kuat dalam Al-Qur’an. Multimedia menjadi sarana untuk mengoptimalkan potensi pendengaran, penglihatan, akal, dan praktik peserta didik sesuai dengan gaya belajar yang berbeda. Ketika digunakan secara bijak dan proporsional, multimedia dapat menjadi wasilah untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif, inklusif, dan bernilai ibadah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar