Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di era digital sekarang ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan akses informasi keagamaan yang luar biasa. Tapi di sisi lain, banyaknya konten Islam yang beredar di media sosial, YouTube, dan berbagai platform digital justru membuat kita harus lebih hati-hati. Tidak semua informasi yang kita temui itu benar dan bisa dipercaya. Makanya, pembelajaran PAI sekarang tidak bisa lagi cuma fokus pada hapalan dan metode konvensional saja. Kita butuh pendekatan baru yang menggabungkan literasi digital dengan kemampuan berpikir kritis atau yang sering disebut Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Allah SWT sebenarnya sudah lama mengingatkan kita untuk selalu menggunakan akal dan berpikir kritis. Dalam Surah Ali Imran ayat 190-191, Allah berfirman:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, "
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka”
Ayat ini jelas mengajak kita untuk tidak cuma menerima begitu saja, tapi juga merenungkan dan berpikir tentang segala ciptaan Allah. Ini adalah bentuk berpikir kritis yang sudah diajarkan Islam sejak 14 abad yang lalu.
Ketika kita bicara tentang literasi digital dalam pembelajaran PAI, ini bukan sekadar kemampuan menggunakan smartphone atau laptop. Literasi digital yang dimaksud adalah kemampuan mencari, memilah, menganalisis, dan menggunakan informasi keagamaan secara bertanggung jawab. Gilster (1997) mendefinisikan literasi digital sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital. Dalam konteks PAI, ini berarti siswa harus bisa membedakan mana konten keagamaan yang kredibel dan mana yang menyesatkan. Mereka harus tahu cara mengecek kebenaran hadits, memverifikasi fatwa ulama, dan memahami tafsir ayat Al-Qur'an dari sumber yang terpercaya.
Fenomena hoaks keagamaan dan konten-konten radikal yang mudah menyebar di dunia digital menjadi tantangan tersendiri. Banyak siswa yang masih mudah percaya dengan informasi yang mereka baca di media sosial tanpa mengecek kebenarannya dulu. Padahal, Allah sudah memberikan pedoman yang jelas dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ٦
"Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu”
Ayat ini mengajarkan prinsip tabayyun atau verifikasi informasi, yang sangat relevan dengan literasi digital zaman sekarang. Sebelum share atau percaya sama suatu informasi keagamaan, kita harus cek dulu kebenarannya.
Sementara itu, kemampuan berpikir kritis atau HOTS dalam pembelajaran PAI mengacu pada taksonomi Bloom yang direvisi oleh Anderson dan Krathwohl (2001), yang mencakup kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Dalam praktiknya, ini berarti siswa tidak cuma diminta menghafal rukun Islam, rukun iman, atau surat-surat pendek. Mereka juga harus bisa memahami mengapa ada perintah dan larangan tertentu dalam Islam, bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan apa hikmah di balik setiap ajaran. Misalnya, ketika belajar tentang zakat, siswa tidak cuma diajar cara menghitung nisab dan haul. Mereka juga diajak berpikir tentang dampak sosial ekonomi dari zakat, mengapa Islam sangat peduli dengan fakir miskin, dan bagaimana zakat bisa menjadi solusi kesenjangan sosial di masyarakat.
Allah mengajak manusia untuk berpikir dalam banyak ayat Al-Qur'an. Dalam Surah Ar-Ra'd ayat 19, Allah berfirman:
اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِۙ ١٩
"Maka apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran"
Bahkan dalam Surah Az-Zumar ayat 9 juga disebutkan:
اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِࣖ ٩
"(Apakah orang Musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad), “ Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran”
Menggabungkan literasi digital dan HOTS dalam pembelajaran PAI sebenarnya bisa dilakukan dengan berbagai cara yang menarik. Guru bisa menggunakan metode Problem Based Learning dengan memanfaatkan teknologi. Contohnya, berikan kasus nyata tentang isu-isu kontemporer seperti hukum cryptocurrency dalam Islam, etika bermedia sosial menurut perspektif Islam, atau bagaimana menyikapi hoaks keagamaan. Siswa diminta mencari informasi dari berbagai sumber digital yang kredibel seperti situs resmi MUI, aplikasi Hadits Web, atau kitab-kitab digital, lalu menganalisis dan mempresentasikan solusinya berdasarkan dalil Al-Qur'an dan Hadits. Pembelajaran seperti ini melatih siswa untuk menganalisis masalah (C4), mengevaluasi berbagai pendapat (C5), dan menciptakan solusi (C6).
Project Based Learning juga bisa menjadi alternatif yang menarik. Siswa bisa diminta membuat project digital seperti video animasi tentang kisah para Nabi, infografis tentang adab-adab Islam, podcast dakwah, atau blog yang membahas isu-isu Islam kontemporer. Melalui project ini, siswa nggak cuma belajar konten keagamaan tapi juga mengembangkan keterampilan digital dan kreativitas mereka. Mereka belajar bagaimana mengemas pesan-pesan Islam dengan cara yang menarik dan mudah dipahami generasi digital.
Penggunaan aplikasi pembelajaran seperti Quizizz, Kahoot, atau Google Classroom juga bisa membantu guru membuat soal-soal PAI yang berorientasi HOTS. Daripada bertanya "Sebutkan rukun Islam!", lebih baik bertanya "Seorang muslim yang sakit parah dan tidak mampu berpugas, bagaimana ia harus menyikapi kewajiban puasa Ramadhan? Analisis berdasarkan prinsip kemudahan dalam Islam!" Soal seperti ini melatih siswa untuk berpikir, menganalisis situasi, dan memberikan solusi berdasarkan pemahaman agama yang komprehensif, bukan sekadar hapalan.
Tentu saja, ada tantangan dalam mengimplementasikan semua ini. Tidak semua sekolah punya fasilitas teknologi yang memadai. Tapi sebenarnya guru bisa memanfaatkan smartphone siswa dengan pendekatan BYOD (Bring Your Own Device) dan menggunakan aplikasi gratis yang banyak tersedia. Tantangan lainnya adalah tidak semua guru PAI melek digital dan terbiasa membuat soal HOTS. Untuk itu, perlu adanya pelatihan berkelanjutan bagi guru PAI tentang teknologi pembelajaran dan penyusunan soal yang melatih berpikir tingkat tinggi. Selain itu, ada juga kekhawatiran orang tua tentang penggunaan gadget di sekolah. Guru perlu mengkomunikasikan dengan jelas bahwa penggunaan teknologi ini untuk tujuan pembelajaran yang positif dan tetap dalam pengawasan.
Pembelajaran PAI yang mengintegrasikan literasi digital dan HOTS akan menghasilkan generasi muslim yang cerdas, kritis, dan bijak dalam bermedia digital. Mereka tidak akan mudah terprovokasi oleh konten-konten yang menyesatkan, mampu memilah informasi dengan baik, dan bisa menerapkan ajaran Islam dengan pemahaman yang mendalam. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”
Guru PAI punya peran yang sangat strategis dalam membimbing siswa mengembangkan literasi digital dan kemampuan berpikir kritisnya. Dengan pendekatan pembelajaran yang tepat, PAI bukan hanya menjadi mata pelajaran yang dihafal tapi menjadi panduan hidup yang benar-benar dipahami dan diamalkan. Generasi muslim yang dihasilkan adalah generasi yang tidak hanya taat beribadah, tapi juga cerdas, kritis, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Mereka akan mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang universal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar