Sabtu, 20 Desember 2025

Ketergantungan Internet Dapat Menurunkan Daya Kritis Siswa

 Ketergantungan Internet Dapat Menurunkan Daya Kritis Siswa

    Kemajuan teknologi digital telah memberikan pengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Internet kini menjadi sumber utama bagi siswa untuk memperoleh informasi dan pengetahuan. Berbagai materi pembelajaran dapat diakses dengan mudah dan cepat melalui gawai. Meskipun demikian, penggunaan internet yang tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak negatif. Salah satu dampak yang cukup mengkhawatirkan adalah menurunnya daya kritis siswa akibat ketergantungan yang berlebihan terhadap internet.

    Daya kritis merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mencakup proses menganalisis, menilai, dan menarik kesimpulan secara logis. Siswa yang memiliki daya kritis tidak hanya menerima informasi apa adanya, tetapi mampu mempertanyakan, menguji kebenaran, serta menghubungkan informasi dengan konteks yang lebih luas. Namun, ketergantungan terhadap internet sering kali membuat siswa terbiasa dengan jawaban instan. Mereka lebih memilih mencari jawaban siap pakai dibandingkan berusaha memahami materi melalui proses berpikir yang mendalam.

    Salah satu penyebab utama menurunnya daya kritis siswa adalah kemudahan akses informasi yang disediakan oleh internet. Dengan hanya mengetik kata kunci tertentu, siswa dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Kebiasaan ini menyebabkan siswa kurang terlatih dalam menyusun argumen, memecahkan masalah, dan berpikir secara mandiri. Dalam jangka panjang, kemampuan berpikir analitis siswa dapat mengalami penurunan karena jarang digunakan secara optimal.Selain itu, banyaknya informasi yang beredar di internet tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tanpa kemampuan berpikir kritis, siswa mudah menerima informasi yang keliru, termasuk berita bohong atau opini yang tidak didukung oleh fakta. Ketergantungan internet tanpa disertai kemampuan memilah informasi dapat membuat siswa kehilangan sikap objektif dalam menilai suatu permasalahan. Padahal, kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan agar siswa tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.

    Islam sangat menekankan pentingnya penggunaan akal dan pemikiran yang mendalam dalam kehidupan manusia. Allah Swt. berfirman:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ


“Maka apakah kamu tidak berpikir?”
(QS. Al-Baqarah: 44)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk menggunakan akalnya secara maksimal. Dalam konteks pendidikan, hal ini berarti siswa dituntut untuk berpikir, memahami, dan menganalisis ilmu pengetahuan, bukan hanya menerima informasi secara pasif.

    Ketergantungan internet juga berdampak pada menurunnya kebiasaan membaca secara mendalam. Banyak siswa lebih tertarik pada bacaan singkat, ringkasan, atau konten visual yang cepat dikonsumsi. Akibatnya, kemampuan memahami teks panjang dan menganalisis isi bacaan secara kritis menjadi lemah. Padahal, membaca secara mendalam merupakan salah satu cara efektif untuk melatih daya pikir dan memperluas wawasan siswa.

Selain itu, Islam mengajarkan umatnya agar bersikap selektif dan berhati-hati dalam menerima informasi. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt.:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا


“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu seseorang membawa berita, maka periksalah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

    Ayat ini mengajarkan prinsip tabayyun, yaitu meneliti dan mengklarifikasi informasi sebelum mempercayainya. Prinsip ini sejalan dengan konsep berpikir kritis yang harus dimiliki oleh siswa di era digital.

Oleh karena itu, penggunaan internet dalam kegiatan belajar harus diarahkan secara bijaksana. Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam membimbing siswa agar tidak menjadikan internet sebagai satu-satunya sumber belajar. Proses pembelajaran hendaknya dirancang untuk mendorong siswa berdiskusi, berargumentasi, dan memecahkan masalah secara mandiri agar kemampuan berpikir kritis mereka terus berkembang.

Sebagai kesimpulan, internet memang memberikan kemudahan dan manfaat besar dalam dunia pendidikan, tetapi ketergantungan yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap daya kritis siswa. Siswa menjadi kurang terbiasa berpikir mandiri, mudah menerima informasi tanpa verifikasi, serta lemah dalam menganalisis masalah. Oleh sebab itu, diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan internet dan penguatan kemampuan berpikir kritis, sesuai dengan nilai-nilai pendidikan dan ajaran Islam yang menekankan pentingnya penggunaan akal secara bijak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar