Senin, 29 Desember 2025

IMPLEMENTASI SABAR ADA BATASNYA MENURUT AL-QUR’AN

 Dalam ajaran Islam, sabar merupakan salah satu akhlak utama yang sangat ditekankan dalam kehidupan seorang Muslim. Sabar mencakup kemampuan menahan diri, tetap teguh dalam ketaatan, serta tidak mudah berputus asa ketika menghadapi ujian hidup. Al-Qur’an banyak menjelaskan keutamaan sabar, namun juga memberikan pemahaman bahwa sabar bukan berarti membiarkan kezaliman atau keburukan terus berlangsung tanpa upaya perbaikan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٣

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini menegaskan bahwa sabar adalah jalan untuk mendapatkan pertolongan Allah. Namun, kesabaran yang diajarkan Islam bukanlah sikap pasrah tanpa usaha. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk diam ketika mengalami ketidakadilan atau penindasan.

Dalam Surah An-Nisa ayat 148, Allah SWT berfirman:

“Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi.”
(QS. An-Nisa: 148)

۞ لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ مِنَ الْقَوْلِ اِلَّا مَنْ ظُلِمَۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا ۝١٤٨

Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang yang dizalimi diperbolehkan untuk menyuarakan ketidakadilan yang dialaminya. Hal ini menjadi bukti bahwa kesabaran memiliki batas, yaitu ketika kesabaran justru membuat kezaliman semakin merajalela.

Allah SWT juga berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 41:

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada dosa atas mereka.”
(QS. Asy-Syura: 41)

Ayat ini menegaskan bahwa membela diri dan memperjuangkan keadilan bukanlah perbuatan tercela. Islam menempatkan kesabaran sebagai akhlak yang mulia, tetapi tetap mendorong umatnya untuk bertindak tegas demi menegakkan kebenaran dan keadilan.

Implementasi sabar yang benar adalah keseimbangan antara ketenangan hati dan keberanian bertindak. Sabar diperlukan dalam menghadapi musibah, hinaan, dan cobaan hidup, namun ketika kesabaran berubah menjadi pembiaran terhadap kezaliman, maka Islam menganjurkan adanya ikhtiar dan penyelesaian yang adil.

Rasulullah SAW sendiri mencontohkan sikap sabar yang aktif. Beliau bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan dakwah, tetapi tetap melawan kezaliman dengan cara yang bijaksana dan bermartabat. Dari sini dapat disimpulkan bahwa sabar dalam Islam bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang memiliki batas yang jelas.

Dengan demikian, Al-Qur’an mengajarkan bahwa sabar adalah akhlak mulia yang harus dipahami secara utuh. Sabar ada batasnya ketika menyangkut keadilan dan kebenaran, sehingga umat Islam dituntut untuk sabar, bijak, dan tegas dalam menjalani kehidupan sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar