Iman dan Aqidah adalah dua pilar fundamental yang menopang seluruh bangunan kehidupan seorang Muslim. Aqidah merujuk pada keyakinan yang mengikat hati dan pikiran, suatu kebenaran mutlak yang tidak terikat keraguan, utamanya tentang Keesaan Allah (Tauhid). Sementara Iman adalah pengakuan lisan, pembenaran hati, dan pembuktian dengan perbuatan (amal). Implementasi keduanya bukanlah sekadar ritual di tempat ibadah, tetapi merupakan peta jalan moral dan etika yang diterapkan dalam setiap detik kehidupan sehari-hari.
Aqidah yang benar adalah keyakinan teguh pada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik/buruk—menghasilkan ketenangan batin yang luar biasa. Ketika seseorang meyakini bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Dzat Yang Maha Bijaksana, ia tidak akan mudah larut dalam kekhawatiran atau kesedihan yang berlebihan. Fungsi sentral Aqidah dalam menciptakan kedamaian ini ditegaskan dalam Al-Qur'an:
Q.S. Ar-Ra’d: 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
ayat ini menjelaskan bahwa ketenteraman hati adalah manifestasi langsung dari kekuatan Aqidah. Ketika menghadapi kegagalan bisnis, perselisihan, atau musibah, seorang Mukmin akan mengimplementasikan Aqidahnya dengan tidak menyalahkan takdir, melainkan kembali kepada Allah, yakin bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan dan hikmah.
Implementasi Iman muncul melalui tiga dimensi utama dalam interaksi sehari-hari:
Implementasi dalam Interaksi Sosial (Muamalah)
Iman mengajarkan kejujuran, keadilan, dan kasih sayang. Ketika berbisnis, seorang Muslim yang beriman tidak akan melakukan kecurangan, penipuan, atau mengurangi takaran, karena ia yakin ada pengawasan abadi dari Allah SWT (Ihsaan). Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa menipu, maka ia bukan dari golonganku."
Dalam pergaulan, iman diwujudkan dengan menjaga lisan dari ghibah (menggunjing) dan fitnah, karena ia sadar bahwa setiap perkataan akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di Hari Akhir. Allah SWT memberikan panduan etika sosial yang tegas:
Q.S. Al-Hujurat: 12
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
Implementasi ayat ini dalam kehidupan sehari-hari adalah menahan diri untuk tidak menghakimi orang lain berdasarkan asumsi semata, sekaligus menjaga kehormatan saudara seiman.
Implementasi dalam Profesionalisme dan Tanggung Jawab
Aqidah mengajarkan bahwa bekerja keras, mencari rezeki yang halal, dan menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya adalah bagian dari ibadah. Seorang yang beriman akan menjadi pekerja yang amanah, disiplin, dan profesional, karena ia menjadikan kualitas pekerjaannya sebagai bukti kesyukuran kepada Allah.
Ketika seseorang menunda pekerjaan, mengurangi jam kerja, atau korupsi, berarti Aqidahnya—keyakinan bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Adil—sedang rapuh. Implementasi iman di sini adalah mengubah pekerjaan rutin menjadi ladang pahala, dengan menjadikan kejujuran dan ketekunan sebagai modal utama.
Implementasi dalam Menghadapi Godaan Dunia
Puncak implementasi Iman dan Aqidah adalah kemampuan mengendalikan diri dari hawa nafsu dan godaan yang melanggar syariat. Baik itu godaan harta, kekuasaan, maupun syahwat. Keyakinan akan adanya surga dan neraka (Aqidah) menjadi rem terkuat, karena ia memprioritaskan yang abadi di atas yang fana.
Seorang Mukmin menyadari bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, seperti yang ditegaskan dalam Al-Qur'an:
Q.S. Al-An’am: 32
وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sungguh, negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
Mengimplementasikan ayat ini berarti menempatkan akhirat sebagai tujuan utama, sehingga setiap keputusan harian mulai dari cara berpakaian, pengeluaran uang, hingga memilih hiburan—selalu diarahkan untuk mencapai keridaan-Nya, menjadikan hidup sehari-hari penuh makna dan nilai ibadah yang sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar