Jumat, 02 Januari 2026

Sumber Akidah Islam sebagai Pedoman Hidup dan Pembentukan Akhlak Ummat Islam

 

    Akidah Islam merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam yang menjadi dasar bagi seluruh aspek kehidupan seorang muslim. Dalam kajian Akidah Akhlak, akidah tidak hanya dipahami sebagai keyakinan teologis yang bersifat konseptual, tetapi juga sebagai sumber nilai yang membentuk sikap mental, moral, dan perilaku manusia. Kata akidah berasal dari bahasa Arab ‘aqada yang berarti ikatan yang kuat dan kokoh. Makna ini menunjukkan bahwa keimanan seorang muslim harus tertanam kuat dalam hati, tidak mudah goyah oleh pengaruh pemikiran yang menyimpang, serta mampu menjadi pedoman hidup dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.

    Sumber utama akidah Islam adalah Al-Qur’an, yaitu wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi dalam menetapkan prinsip-prinsip akidah karena kebenarannya bersifat mutlak dan terjaga keasliannya sepanjang masa. Allah SWT berfirman:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

    Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan rujukan utama dalam membangun keyakinan dan menentukan arah kehidupan manusia. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan secara komprehensif prinsip-prinsip akidah yang dikenal sebagai rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, serta qada dan qadar. Prinsip-prinsip ini menjadi fondasi bagi terbentuknya akhlak yang mulia. Allah SWT berfirman:

 آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

 “Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.”(QS. Al-Baqarah: 285)

    Keimanan kepada Allah SWT melahirkan kesadaran spiritual bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan-Nya. Kesadaran ini mendorong terbentuknya sikap jujur, amanah, dan bertanggung jawab. Sementara itu, keimanan kepada hari akhir menanamkan keyakinan bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga mendorong manusia untuk menjauhi perilaku zalim dan tidak bermoral. Dengan demikian, akidah dalam Islam memiliki implikasi langsung terhadap pembentukan akhlak individu dan sosial.

    Sumber kedua akidah Islam adalah "As-Sunnah atau Hadis Nabi Muhammad SAW". Sunnah berfungsi sebagai penjelas, penguat, dan perinci ajaran Al-Qur’an, termasuk dalam persoalan akidah dan akhlak. Dalam kajian Akidah Akhlak, Rasulullah SAW dipandang sebagai teladan utama (uswah hasanah) yang menunjukkan bagaimana akidah diwujudkan dalam perilaku nyata. Allah SWT berfirman:

 وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

    Ayat ini menegaskan bahwa akhlak Rasulullah SAW merupakan manifestasi dari akidah yang sempurna. Hal ini dipertegas oleh sabda beliau:

 “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

    Hadis ini menunjukkan bahwa misi utama kenabian Nabi Muhammad SAW tidak dapat dipisahkan dari pembinaan akhlak manusia. Akidah yang benar akan melahirkan akhlak yang baik, baik dalam hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallah) maupun hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Dalam konteks sosial, akidah yang kokoh akan melahirkan sikap toleran, adil, dan peduli terhadap sesama.

    Selain Al-Qur’an dan Sunnah, ijma’ dan ijtihad para ulama juga memiliki peran penting dalam menjaga kemurnian akidah dan akhlak Islam. Ijma’ merupakan kesepakatan para ulama terhadap suatu persoalan keagamaan, sedangkan ijtihad adalah upaya intelektual yang dilakukan untuk memahami dalil-dalil syariat sesuai dengan konteks zaman. Dalam kajian Akidah Akhlak, peran ulama sangat penting untuk merespons tantangan pemikiran modern, seperti sekularisme, materialisme, dan krisis moral, tanpa keluar dari prinsip dasar Islam.

    Dengan menjadikan sumber akidah Islam sebagai pedoman hidup, umat Islam memiliki kerangka berpikir yang jelas dan nilai moral yang kokoh. Akidah yang lurus akan membentuk kepribadian muslim yang berintegritas, beretika, dan bertanggung jawab dalam kehidupan pribadi, akademik, dan sosial. Dalam perspektif mata kuliah Akidah Akhlak, keterpaduan antara akidah yang benar dan akhlak yang mulia merupakan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu melahirkan insan beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah. Akidah Islam, dengan demikian, tidak hanya menjadi dasar keyakinan, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang menuntun umat Islam menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar