Jumat, 02 Januari 2026

Melatih Diri Menjadi Ridha dan Bersyukur

 

    Hidup penuh dengan pasang surut yang tak terduga, membuat kita sering kali merasa kecewa atau tidak puas. Namun, dalam ajaran Islam, ridha dan syukur menjadi kunci untuk mencapai ketenangan hati. Ridha artinya menerima segala ketentuan Allah SWT dengan ikhlas, tanpa keluhan, sementara syukur adalah rasa terima kasih atas nikmat-Nya, baik yang besar maupun kecil. Melatih diri untuk menjadi ridha dan bersyukur bukanlah tugas mudah, tapi proses yang membentuk karakter kuat. Dengan latihan ini, kita bisa mengubah pandangan hidup, mengurangi stres, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bayangkan, hati yang ridha akan selalu damai, meski dunia bergejolak.

    Mulailah dengan pemahaman dasar. Al-Qur’an mengingatkan dalam surah Asy-Syarh ayat 5-6: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Ridha berasal dari keyakinan bahwa segala yang terjadi adalah yang terbaik dari Allah. Untuk melatihnya, lakukan introspeksi harian. Setiap sore, luangkan waktu 10 menit untuk merefleksikan hari itu. Tanyakan pada diri: “Apa ujian yang kuhadapi hari ini? Apa hikmah di baliknya?” Misalnya, jika pekerjaan gagal, ridha berarti menerima bahwa itu mungkin membuka pintu rezeki lain. Ucapkan dzikir seperti “Hasbunallah wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah sebagai pelindung kami) untuk menenangkan jiwa. Secara bertahap, ini akan membiasakan hati untuk tidak memberontak terhadap qadha dan qadar.

    Syukur, di sisi lain, harus menjadi kebiasaan aktif. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi). Praktikkan dengan membuat daftar syukur setiap pagi: syukuri matahari yang terbit, keluarga yang sehat, atau makanan sederhana di meja. Saat menghadapi kesulitan, seperti sakit ringan, ingat nikmat yang masih utuh, seperti penglihatan atau pendengaran. Ini melatih otak untuk fokus pada kelimpahan, bukan kekurangan. Tambahkan ibadah seperti shalat sunnah tahajjud, di mana kamu bisa berdoa: “Ya Allah, ajarilah aku ridha terhadap apa yang Engkau berikan dan syukur atas nikmat-Mu.”

    Integrasikan latihan ini ke dalam kehidupan sehari-hari. Hindari lingkungan yang memicu ketidakpuasan, seperti scrolling media sosial yang penuh pameran. Sebaliknya, baca kisah para sahabat seperti Abu Bakar yang ridha saat kehilangan hartanya. Lakukan amal jariyah, seperti sedekah rutin, karena itu memperkuat rasa syukur. Saat ujian besar datang, seperti kehilangan orang tercinta, katakan “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” sambil bersyukur atas waktu yang pernah diberikan. Tantangan terbesar adalah konsistensi; emosi bisa menggoda untuk mengeluh. Lawan dengan membaca surah Al-Insyirah untuk mengingat janji kemudahan setelah kesulitan.

    Akhirnya, melatih ridha dan syukur membawa manfaat holistik. Hati menjadi lebih sabar, hubungan sosial lebih harmonis, dan iman semakin kokoh. Seperti pohon yang akarnya dalam, kita akan tahan terhadap badai kehidupan. Allah SWT menjanjikan dalam QS. Ibrahim ayat 7: “Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” Mari mulai sekarang: ridha pada hari ini, syukur pada setiap hembusan napas. Dengan begitu, hidup bukan lagi beban, tapi anugerah indah dari-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar