Minggu, 21 Desember 2025

SOLUSI KETERBATASAN INTERNET PADA PROSES PEMBELAJARAN


A.     Analisis Permasalahan Keterbatasan Internet Dalam Proses Pembelajaran

Keterbatasan akses internet merupakan salah satu kendala utama dalam penyelenggaraan pembelajaran, khususnya pada sistem pembelajaran daring dan pembelajaran berbasis teknologi. Permasalahan ini tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural, ekonomi, dan geografis yang saling berkaitan. Berikut adalah analisis terhadap beberapa faktor utama penyebab keterbatasan internet dalam proses pembelajaran.

1.      Keterbatasan Infrastruktur Jaringan 

Keterbatasan infrastruktur jaringan masih menjadi permasalahan mendasar, terutama di daerah terpencil, perdesaan, dan wilayah kepulauan. Ketersediaan jaringan internet yang tidak merata menyebabkan akses pembelajaran digital menjadi tidak optimal. Lemahnya sinyal, keterbatasan jaringan broadband, serta minimnya pembangunan infrastruktur teknologi informasi berdampak langsung pada rendahnya kualitas interaksi pembelajaran antara pendidik dan peserta didik. Kondisi ini menyebabkan proses pembelajaran daring tidak dapat berlangsung secara efektif dan berkesinambungan.

2.      Faktor Ekonomi Peserta Didik dan Orang Tua

Faktor ekonomi turut berperan signifikan dalam keterbatasan akses internet. Tidak semua peserta didik dan orang tua memiliki kemampuan finansial untuk menyediakan kuota internet secara berkelanjutan. Biaya paket data yang relatif tinggi, khususnya bagi keluarga dengan tingkat pendapatan rendah, menjadi beban tambahan dalam proses pendidikan. Akibatnya, peserta didik mengalami keterbatasan dalam mengikuti pembelajaran daring secara penuh, yang berpotensi menurunkan motivasi dan hasil belajar.

3.      Keterbatasan Perangkat Teknologi

Selain akses jaringan, keterbatasan perangkat teknologi juga menjadi hambatan serius. Tidak semua peserta didik memiliki perangkat pendukung seperti telepon pintar, tablet, atau komputer yang memadai. Dalam beberapa kasus, satu perangkat harus digunakan secara bergantian oleh beberapa anggota keluarga. Kondisi ini mengakibatkan keterbatasan waktu belajar dan menurunnya efektivitas pembelajaran daring, khususnya ketika pembelajaran dilakukan secara sinkron. 

4.      Kesenjangan Digital Antarwilayah 

Kesenjangan digital antarwilayah mencerminkan adanya ketimpangan akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi. Wilayah perkotaan cenderung memiliki akses internet yang lebih baik dibandingkan wilayah perdesaan atau daerah tertinggal. Kesenjangan ini berimplikasi pada ketidakmerataan kualitas pendidikan, di mana peserta didik di wilayah dengan akses internet terbatas berada pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan peserta didik di wilayah yang memiliki fasilitas teknologi yang memadai. 

Permasalahan keterbatasan internet dalam pembelajaran menuntut adanya kebijakan dan solusi yang berorientasi pada kemudahan dan keadilan. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”

QS. Al-Baqarah 185

 

  1. Solusi Keterbatasan Internet Dalam Proses Pembelajaran

Menghadapi berbagai permasalahan keterbatasan internet dalam proses pembelajaran, diperlukan solusi yang komprehensif, adaptif, dan berorientasi pada prinsip keadilan serta kemudahan bagi seluruh peserta didik. Solusi ini tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, melainkan memerlukan sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, pendidik, orang tua, dan masyarakat. Adapun beberapa solusi yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut.

1.      Pengembangan dan Pemerataan Infrastruktur Jaringan

Pemerintah perlu mempercepat pembangunan dan pemerataan infrastruktur jaringan internet, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Penyediaan jaringan yang stabil dan terjangkau menjadi fondasi utama dalam mendukung pembelajaran berbasis teknologi. Selain itu, kerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi dapat menjadi alternatif untuk memperluas jangkauan jaringan internet, sehingga peserta didik di berbagai wilayah dapat memperoleh akses yang setara terhadap pembelajaran daring. 

2.      Pemberian Bantuan Kuota Internet dan Dukungan Finansial

Untuk mengatasi kendala ekonomi peserta didik dan orang tua, pemberian bantuan kuota internet atau subsidi pembelajaran digital menjadi solusi yang efektif. Bantuan ini dapat meringankan beban finansial keluarga serta meningkatkan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran daring. Di samping itu, lembaga pendidikan juga dapat mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung akses internet bagi peserta didik yang kurang mampu, sehingga tidak terjadi diskriminasi dalam proses pembelajaran.

3.      Penyediaan dan Optimalisasi Perangkat Teknologi

Solusi lain yang perlu diperhatikan adalah penyediaan perangkat teknologi yang memadai bagi peserta didik. Sekolah dapat memfasilitasi program peminjaman perangkat seperti laptop atau tablet bagi peserta didik yang membutuhkan. Selain itu, pendidik diharapkan dapat merancang pembelajaran yang tidak terlalu bergantung pada spesifikasi perangkat tinggi, sehingga dapat diakses melalui perangkat sederhana yang dimiliki sebagian besar peserta didik.

4.      Penerapan Model Pembelajaran Alternatif

Dalam kondisi keterbatasan internet, penerapan model pembelajaran alternatif menjadi solusi yang relevan. Pembelajaran luring melalui modul cetak, bahan ajar mandiri, atau media penyimpanan offline dapat digunakan sebagai pendamping pembelajaran daring. Pendekatan blended learning, yang mengombinasikan pembelajaran daring dan luring, juga dapat diterapkan agar peserta didik tetap memperoleh pengalaman belajar yang optimal meskipun akses internet terbatas.

5.      Peningkatan Literasi Digital Pendidik dan Peserta Didik

Peningkatan literasi digital merupakan langkah penting dalam memaksimalkan pemanfaatan teknologi pembelajaran. Pendidik perlu dibekali kemampuan dalam memilih platform pembelajaran yang efisien dan hemat kuota, serta merancang materi yang mudah diakses. Sementara itu, peserta didik perlu diberikan pendampingan agar mampu menggunakan teknologi secara efektif dan bertanggung jawab dalam menunjang proses belajar. 

Allah SWT menegaskan bahwa setiap ketentuan dan kebijakan hendaknya berlandaskan prinsip kemudahan serta tidak menimbulkan kesulitan bagi manusia. Hal ini relevan dengan upaya menghadirkan solusi pembelajaran yang adaptif terhadap keterbatasan internet.

لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِين

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari (kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum kafir.

QS. Al-Baqarah 286

  1. Penutup

1.      Keterbatasan Internet Bukan Penghalang Utama Pembelajaran

Keterbatasan akses internet dalam proses pembelajaran tidak dapat dijadikan sebagai penghalang utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Meskipun internet memiliki peran penting dalam mendukung pembelajaran modern, esensi pendidikan tetap terletak pada proses transfer ilmu, pembentukan karakter, dan pengembangan potensi peserta didik. Dengan pendekatan yang adaptif, kreatif, dan kontekstual, keterbatasan internet dapat diatasi melalui pemanfaatan metode pembelajaran alternatif yang tetap menjamin keberlangsungan proses belajar mengajar.

2.      Pentingnya Kolaborasi Semua Pihak 

Keberhasilan dalam mengatasi keterbatasan internet dalam pembelajaran sangat bergantung pada kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, pendidik, orang tua, dan masyarakat. Pemerintah berperan dalam penyediaan kebijakan dan infrastruktur, sekolah dan pendidik bertanggung jawab dalam merancang pembelajaran yang inklusif, sementara orang tua dan masyarakat memberikan dukungan moral serta pendampingan kepada peserta didik. Sinergi yang kuat antar pihak tersebut menjadi kunci utama dalam menciptakan pemerataan dan keadilan pendidikan. 

3.      Pendidikan Sebagai Amanah Yang Harus Diupayakan Secara Maksimal

Pendidikan merupakan amanah yang harus diupayakan secara maksimal demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab. Setiap keterbatasan yang dihadapi, termasuk keterbatasan internet, menuntut adanya ikhtiar, komitmen, dan tanggung jawab moral dari seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Upaya maksimal dalam menyelenggarakan pendidikan yang adil, mudah diakses, dan bermutu merupakan wujud tanggung jawab bersama serta pengamalan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman dalam kehidupan bermasyarakat.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar