Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering melakukan berbagai aktivitas tanpa menyadari nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Banyak perbuatan dilakukan secara rutin dan berulang, bahkan terkadang hanya berorientasi pada kepentingan duniawi semata. Padahal, dalam ajaran Islam, setiap aktivitas manusia memiliki keterkaitan erat dengan nilai keimanan, salah satunya iman kepada malaikat. Keimanan ini berperan penting dalam membentuk kesadaran bahwa kehidupan manusia berjalan dalam pengaturan Allah SWT.
Iman kepada malaikat merupakan bagian dari rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap Muslim. Keyakinan ini menegaskan bahwa malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang selalu taat dan patuh dalam menjalankan perintah-Nya. Keberadaan malaikat menunjukkan bahwa alam semesta berjalan sesuai dengan ketentuan dan kehendak Allah. Dengan demikian, manusia sebagai makhluk yang diberi akal dan tanggung jawab seharusnya menjalani aktivitas hidupnya dengan penuh kesadaran dan ketaatan.
Allah SWT berfirman:
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Artinya: “Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub dan anak cucunya, serta apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka, kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 136)
Ayat tersebut menegaskan bahwa iman merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Iman kepada malaikat menumbuhkan pemahaman bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari sistem ilahi yang tertib dan teratur. Keyakinan ini mendorong manusia untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan penuh tanggung jawab, baik dalam aktivitas pribadi maupun sosial.
Allah SWT juga menjelaskan tentang kemuliaan dan ketertiban para malaikat dalam firman-Nya:
بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
Artinya: “(Malaikat-malaikat itu) bahkan adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 26–27)
Ayat ini menggambarkan kemuliaan dan kepatuhan malaikat dalam menjalankan kehendak Allah SWT. Sifat tersebut menjadi teladan bagi manusia dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Manusia diajarkan untuk bersikap tertib, disiplin, dan tidak bertindak berdasarkan hawa nafsu semata, melainkan berlandaskan nilai keimanan dan ketaatan.
Dalam aktivitas belajar, bekerja, dan berinteraksi sosial, iman kepada malaikat mendorong manusia untuk menata niat dan perilakunya. Aktivitas yang dilakukan dengan niat yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam akan bernilai ibadah. Kesadaran ini membentuk akhlak yang baik, meningkatkan etos kerja, serta menumbuhkan sikap tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, iman kepada malaikat memiliki relevansi yang kuat dalam hubungan manusia dengan aktivitasnya. Keimanan ini membimbing manusia untuk hidup lebih sadar, terarah, dan bermoral. Setiap aktivitas yang dilakukan dengan landasan iman tidak hanya bermanfaat bagi kehidupan sosial, tetapi juga bernilai ibadah dan menjadi bekal di akhirat kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar