Minggu, 21 Desember 2025

PERAN GURU DAN MEDIA DIGITAL DALAM PENDIDIKAN MASA KINI


    Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Kehadiran media digital seperti internet, aplikasi pembelajaran, video interaktif, dan kecerdasan buatan telah mengubah cara belajar peserta didik. Dalam situasi ini, peran guru tidak berkurang, justru semakin penting. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pembimbing, penuntun nilai, dan pengarah pemanfaatan media digital agar selaras dengan tujuan pendidikan dan nilai-nilai moral.

    Islam memandang ilmu sebagai sesuatu yang sangat mulia. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ menegaskan pentingnya proses belajar dan penggunaan sarana pendukungnya. Allah SWT berfirman:

> ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ۝ خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ۝ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ۝ ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ۝ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ

(QS. Al-‘Alaq: 1–5)

    Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengajarkan manusia dengan berbagai perantara, termasuk qalam (alat, media). Dalam konteks modern, media digital dapat dipandang sebagai kelanjutan dari qalam sebagai sarana pembelajaran. Namun, pemanfaatannya tetap memerlukan bimbingan guru agar ilmu yang diperoleh tidak hanya luas, tetapi juga benar dan bermakna.

    Guru di era digital memiliki peran strategis sebagai fasilitator pembelajaran. Peserta didik saat ini dapat dengan mudah mengakses informasi dari berbagai sumber digital. Tanpa bimbingan guru, informasi tersebut bisa disalahpahami, bahkan menyesatkan. Oleh karena itu, guru berperan membantu siswa memilah informasi yang valid, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, serta mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Sebagaimana firman Allah SWT:

> وَقُل رَّبِّ زِدۡنِى عِلۡمًا

“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”

(QS. Ṭāhā: 114)

    Doa ini mengajarkan bahwa ilmu harus terus berkembang, tetapi tetap berada dalam bimbingan nilai dan kesadaran spiritual. Guru berperan menanamkan sikap rendah hati dalam menuntut ilmu, meskipun teknologi memberi kemudahan akses tanpa batas.

    Selain sebagai fasilitator, guru juga berperan sebagai teladan akhlak di tengah derasnya arus digital. Media digital tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga tantangan, seperti penyalahgunaan gawai, kecanduan media sosial, serta konten yang tidak sesuai dengan nilai pendidikan. Di sinilah peran guru sebagai pendidik karakter sangat dibutuhkan. Allah SWT berfirman:

> إِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

(QS. Al-Qalam: 4)

        Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan akhlak. Guru, dengan bantuan media digital, dapat menyampaikan nilai-nilai moral melalui konten yang kreatif dan inspiratif, sekaligus menjadi contoh nyata dalam penggunaan teknologi yang bijak.

        Media digital juga memberi peluang bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan kontekstual. Video, animasi, dan platform pembelajaran daring dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Namun, guru tetap menjadi aktor utama yang merancang, mengarahkan, dan mengevaluasi proses pembelajaran. Allah SWT berfirman:

> ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمۡ ثُمَّ رَزَقَكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡ

(QS. Ar-Rūm: 40)

        Ayat ini mengingatkan bahwa segala kemampuan manusia, termasuk teknologi, merupakan karunia Allah yang harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Guru memiliki amanah besar untuk memastikan bahwa media digital menjadi sarana mendekatkan peserta didik kepada ilmu dan kebaikan, bukan sebaliknya.

        Dengan demikian, peran guru dan media digital tidak dapat dipisahkan. Media digital adalah alat, sedangkan guru adalah penentu arah. Tanpa guru, media digital hanyalah teknologi tanpa nilai. Sebaliknya, dengan bimbingan guru, media digital dapat menjadi sarana efektif untuk mencetak generasi yang cerdas, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman, tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keislaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar