Minggu, 21 Desember 2025

Optimalisasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Media Digital Non-Cetak pada Era Society 5.0

 

Era Society 5.0 merupakan fase perkembangan masyarakat yang memadukan teknologi digital dengan kehidupan manusia secara menyeluruh. Dalam bidang pendidikan, perubahan ini memberikan kesempatan besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk pembelajaran Bahasa Arab. Pemanfaatan media digital non-cetak seperti video, aplikasi pembelajaran, e-learning, kamus digital, audio interaktif, dan teknologi kecerdasan buatan memungkinkan proses belajar lebih efektif, cepat, dan sesuai kebutuhan peserta didik zaman modern.

Perkembangan teknologi ini sejalan dengan ajaran Islam yang memerintahkan manusia untuk terus membaca, belajar, dan mengembangkan pengetahuan. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ۝١

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!”

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ۝٢

“Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.”

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ۝٣

"Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia,”

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ۝٤

“yang mengajar (manusia) dengan pena.”

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ۝٥

“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”


“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan… Yang mengajar manusia dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Dalam konteks hari ini, “pena” dapat dipahami sebagai seluruh alat untuk belajar, termasuk media digital. Artinya, teknologi adalah bagian dari sarana modern untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Pemanfaatan media digital non-cetak dalam pembelajaran Bahasa Arab memiliki beberapa keunggulan utama. Pertama, media digital memungkinkan visualisasi materi yang lebih kaya. Contohnya, aplikasi seperti Madinah Arabic, Duolingo Arabic, video tajwid atau nahwu di YouTube, serta audio makhraj huruf dapat membantu siswa memahami materi abstrak dengan contoh konkret. Hal ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya menggunakan buku cetak.

Kedua, pembelajaran menjadi fleksibel. Media digital memungkinkan siswa belajar kapan saja dan di mana saja, sesuai prinsip ubiquitous learning. Mereka dapat mengulang materi, mengakses kamus digital seperti Al-Maany, atau mendengarkan percakapan Bahasa Arab tanpa dibatasi ruang dan waktu. Ini sangat sesuai dengan tuntutan era Society 5.0 yang serba cepat dan dinamis.

Ketiga, penggunaan teknologi digital sejalan dengan nilai Islam yang meninggikan derajat orang-orang berilmu. Dalam QS. Al-Mujādilah ayat 11 Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ۝١١ 

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”

Ayat ini memberikan dorongan bahwa memanfaatkan sumber ilmu, termasuk teknologi digital, adalah bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas keilmuan.

Keunggulan lainnya adalah keberagaman gaya belajar. Media digital memadukan unsur visual, audio, dan interaktif sehingga siswa dengan berbagai karakter belajar dapat memahami materi dengan lebih cepat. Latihan istima’, muhadatsah, qira’ah, dan kitabah dapat dilakukan melalui aplikasi atau platform digital yang menyediakan rekaman suara, dialog, latihan pilihan ganda, hingga penilaian otomatis.

Selain itu, media digital sangat membantu guru dalam evaluasi pembelajaran. Platform seperti Google Classroom, Edmodo, atau Moodle memungkinkan guru memberikan kuis, tugas, dan umpan balik secara cepat. Kecepatan ini mendukung pembelajaran yang lebih responsif. Dalam konteks Bahasa Arab, guru dapat memberikan latihan makhraj, dialog, dan analisis teks melalui format digital yang mudah digunakan.

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam Society 5.0 memberikan inovasi baru. Teknologi seperti ChatGPT atau AI Arabic Tutor dapat membantu siswa menghasilkan contoh kalimat, mengoreksi kesalahan tulisan Arab, atau memberikan latihan percakapan. AI juga dapat menyesuaikan tingkat kesulitan latihan sesuai kemampuan siswa, sehingga setiap peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang personal.

Meski demikian, keberhasilan pembelajaran digital tetap memerlukan peran guru sebagai pengarah dan pengendali. Teknologi bukan pengganti guru, tetapi alat pendukung. Guru tetap diperlukan untuk memastikan penggunaan media digital diarahkan pada pembelajaran yang benar, tidak keluar dari kaidah bahasa, dan tetap berakhlak. Dalam Society 5.0, teknologi diposisikan sebagai alat untuk memudahkan manusia, bukan sebaliknya.

Agar pembelajaran Bahasa Arab semakin efektif, lembaga pendidikan perlu meningkatkan literasi digital. Guru dan siswa harus dibekali kemampuan mengelola platform digital, membuat konten pembelajaran, serta memanfaatkan aplikasi Bahasa Arab secara kreatif. Tanpa literasi digital yang baik, peluang besar dari Society 5.0 akan terbuang. Allah mengingatkan dalam QS. Az-Zumar ayat 9:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِࣖ ۝٩

 “Katakanlah: Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”

Ayat ini menguatkan bahwa siapa pun yang memanfaatkan sarana-sarana pengetahuan termasuk teknologi modern, maka ia berada pada derajat yang lebih baik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Bahasa Arab berbasis media digital non-cetak sangat efektif di era Society 5.0. Media digital menyediakan visualisasi yang kuat, akses belajar fleksibel, metode interaktif, evaluasi cepat, dan dukungan kecerdasan buatan. Semua ini membuat proses belajar lebih menarik, relevan, dan sesuai tuntutan zaman. Teknologi menjadi sarana yang memudahkan manusia dalam menguasai Bahasa Arab, bukan menggantikan peran guru, tetapi memperkuatnya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar