Senin, 29 Desember 2025

Kedudukan Akidah dalam Islam serta Bahaya Kufur dan Nifaq

 

  1. Pengertian dan Kedudukan Akidah

a. Pengertian Akidah

     Secara bahasa, aqidah berasal dari kata Arab al-'aqdu yang berarti ikatan, simpul, atau perjanjian yang mengikat hati secara kuat. Sedangkan secara istilah (terminologi), aqidah adalah keyakinan dan kepercayaan yang kokoh dan pasti (tanpa keraguan) dalam hati terhadap sesuatu, khususnya dalam Islam merujuk pada keyakinan fundamental pada Allah SWT, para malaikat, kitab-Nya, rasul-Nya, hari akhir, dan takdir (Rukun Iman). 

Akidah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam karena merupakan pondasi atau dasar utama dari seluruh aspek agama. Tanpa Akidah yang benar, ibadah, dan amal seorang Muslim tidak akan diterima oleh Allah Swt. Akidah adalah keyakinan atau iman yang teguh kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari kiamat, dan qada serta kadar (takdir), yang dikenal dengan rukun iman.

Akidah adalah pondasi atau pondasi utama dalam Islam. Tanpa Akidah yang benar, seluruh bangunan ajaran Islam seperti ibadah, akhlak, dan muamalah tidak akan memiliki makna yang benar.


  • Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an Q.S An-Nahl: 106 :


مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِۗ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ۝١٠٦


“Siapa yang kufur kepada Allah setelah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa (mengucapkan kalimat kekufuran), sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanannya (dia tidak berdosa). Akan tetapi, siapa yang berlapang dada untuk (menerima) kekufuran, niscaya kemurkaan Allah menimpanya dan bagi mereka ada azab yang besar”. (QS An-Nahl: 106)


  • Ini menunjukkan bahwa akidah (iman) adalah inti yang paling penting dalam agama seseorang.


b. Hubungan antara Akidah dan Amal

Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, dan intinya adalah iman atau akidah dan amal. Akidah dan amal memiliki keterkaitan satu sama lain seperti keterkaitan antara buah dengan pohon, atau keterkaitan akibat dengan sebab-sebabnya, konklusi dan premisnya dan karena keterkaitan yang kuat inilah maka penyebutan amal dirangkai dengan akidah pada banyak ayat-ayat suci al-Qur'an.

 Akidah merupakan landasan pokok dari setiap amal seorang muslim dan sangat menentukan sekali terhadap nilai amal, karena akidah itu berurusan dengan hati、 Akidah sebagai kepercayaan yang melahirkan bentuk keimanan terhadap rukun iman, yaitu iman kepada Allah, Malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, Rosul-rosul Allah, hari kiamat. dan takdir.

Meskipun hal yang paling menentukan adalah akidah/iman, tetapi tanpa integritas ilmu dan amal dalam perilaku kehidupan muslim, maka keislaman seorang muslim menjadi kurang utuh, bahkan akan mengakibatkan penurunan keimanan pada diri muslim sebab eksistensi perilaku lahiriyah seorang muslim melambangkan batinnya.

Beriman berarti meyakini kebenaran ajaran Allah SWT dan Rasulullah SAW. Serta dengan penuh ketaatan menjalankan ajaran tersebut, Untuk dapat menjalankan perintah Allah SWT dan Rasul kita harus memahaminya terlebih dahulu sehingga tidak menyimpang dari yang dikehendaki Allah dan Rasulnya. Cara memahaminya adalah dengan selalu mempelajari agama (islam).

  1. Pengertian dan Macam-Macam Kufur

a. Pengertian Kufur

Kata kufur berasal dari bahasa Arab kafara yang berarti ingkar. Moh Shofan dalam buku Pluralisme Menyelamatkan Agama Agama menyebutkan, kufur dapat iartikan menjadi dua hal.

 Pertama, kufur adalah mengingkari syariat Islam dan tidak mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Nabi-Nya. Kedua, kufur adalah mengingkari segala nikmat yang diberikan Allah.

Jadi dapat disimpulkan, arti kufur yang pertama dilawankan dengan kata iman. Sedangkan arti kufur yang kedua dilawankan dengan kata syukur.

Orang yang tidak mau sholat digolongkan menjadi orang yang kufur karena telah mengingkari nikmat Allah. Ancaman bagi orang yang kufur telah dijelaskan dalam surat Ibrahim ayat 7 berikut:


وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ


Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Orang yang kufur disebut sebagai orang kafir. Itu karena orang yang kufur menutup hatinya dari hidayah Allah SWT.

b. Macam-macam Kufur

Dikutip dari buku Ilmu Tauhid terbitan Duta Media Publishing, kufur dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kufur besar dan kufur kecil. Perbedaannya terletak pada akibat yang diterima oleh pelaku. Kufur kecil tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, namun mengurangi amalan yang dimilikinya. Hal tersebut dijelaskan dalam surat Ibrahim ayat 18 berikut:


مَثَلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ اَعْمَالُهُمْ كَرَمَادِ ِۨاشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ يَوْمٍ عَاصِفٍۗ لَا يَقْدِرُوْنَ مِمَّا كَسَبُوْا عَلٰى شَيْءٍ ۗذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيْدُ


Artinya: Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.

Sedangkan kufur besar sering disebut sebagai kufur akidah, yaitu membuat pelakunya dikeluarkan dalam Islam. Kufur besar dibedakan menjadi lima macam, yaitu:

  1. Munafik

Munafik adalah orang yang secara lahiriah mengaku beriman kepada Allah, tetapi hatinya mempunyai maksud lain yang tidak didasari iman kepada Allah. Orang yang memiliki sifat munafik dapat dilihat dari sikap dan perbuatannya. Sikap ini merupakan perilaku yang paling hina sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisa ayat 145 berikut:


اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ


Artinya: Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.

  1. Murtad

Orang Islam yang memeluk agama lain. Perbuatan ini termasuk dalam golongan yang paling jelek tingkatannya dalam kufur. Dalam kacamata Islam, orang murtad dikategorikan sebagai orang yang tidak terhormat.

  1. Musyrik

Seseorang yang mempercayai Tuhan lebih dari satu. Ia mengaku bahwa di samping Allah ada kekuatan lain yang menyamai kuasa-Nya.


  1. Muattil atau Atheis

Seseorang yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Menurut pandangan mereka, segala hal yang ada di dunia ini tidak ada yang menciptakan namun terjadi dengan sendirinya.

  1. Syirik

Sama dengan musyrik, syirik adalah perbuatan yang menyekutukan Allah. Perilaku ini sangat bertentangan dengan ajaran tauhid.

C. Contoh kufur dalam kehidupan sehari-har

Perilaku kufur dalam sehari-hari contohnya adalah kufur nikmat (mengeluh, tidak bersyukur, sombong dengan nikmat) dan kufur hukum (mengingkari perintah agama seperti sholat, puasa, zakat, atau meninggalkan kewajiban Muslim). Ini juga mencakup mengingkari kebaikan orang lain, tidak memanfaatkan rezeki untuk hal baik, atau mengikuti hawa nafsu daripada petunjuk Allah, yang semuanya termasuk bentuk ketidakbersyukuran atau pembangkangan terhadap nikmat dan aturan-Nya.

3. Pengertian dan Jenis Nifaq

  1. Pengertian Nifa

 Nifāq berasal dari akar kata nāfaqa berarti munafik, menyembunyikan, berbohong, berpura-pura. Kata ini diambil dari kata nafiqā berarti salah satu lubang tikus, jika dicari melalui satu lubang, maka tikus itu akan lari dan mencari lubang lainnya.

Kata Nifāq secara istilah adalah sikap menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya karena tak ingin diketahui keberadaannya oleh orang lain sehingga menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Atau dengan kata lain nifāq ialah menyatakan keimanan padahal di balik itu tersimpan kekufuran. Allah Swt. berfirman:


اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝٦٧


Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik” (QS. at- Taubah [9]: 67)

  1.  Jenis Nifaq

Nifaq ada dua jenis: Nifaq I'tiqadi dan Nifaq 'Amali.

1. Nifaq I'tiqadi (Keyakinan)

Yaitu nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi bersembunyi kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak Neraka. Allah menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan, seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan pemeluknya serta kecenderungan musuh-musuh untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafiq jenis ini selalu ada di setiap zaman. Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti itu, mereka masuk ke dalam agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama umat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Oleh karena itu, seorang munafiq menampakkan keimanannya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Hari Akhir, namun di dalam batinnya mereka melepaskan diri dari semua itu dan mendustakannya. Nifaq jenis ini ada empat macam, yaitu:

  1. Pertama : Mendustakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.

  2. Kedua : Membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa.

  3. Ketiga : Merasa gembira dengan pemahaman agama Islam.

  4. Keempat : Tidak senang dengan kemenangan Islam.

2. Nifaq 'Amali (Perbuatan).

Yakni melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, namun tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi merupakan wasilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan nifaq. Lalu jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:


أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ انَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.


“ Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafiq sejati, dan jika terdapat salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya: 1) jika dipercaya ia berkhianat, 2) jika berbicara ia berdusta, 3) jika berjanji ia memungkiri, dan 4) jika pertemuan ia melewati batas .”


    Kadang-kadang pada diri seorang hamba dikumpulkan kebiasaan-kebiasaan baik dan kebiasaan-kebiasaan buruk, perbuatan iman dan perbuatan kufur dan nifaq. Oleh karena itu, ia mendapatkan pahala dan siksa sesuai konsekuensi dari apa yang ia lakukan, seperti malas dalam melakukan shalat berjama'ah di masjid. Ini adalah antara sifat orang-orang munafik. Sifat nifaq adalah sesuatu yang buruk dan sangat berbahaya, sehingga para Sahabat Radhiyallahu anhum begitu sangat takutnya kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam nifaq. Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata: “Aku bertemu dengan 30 Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka semua takut kalau-kalau ada nifaq dalam dirinya.”

3. Perbedaan antara Nifaq Besar dengan Nifaq Kecil

Nifaq besar pelaku mengeluarkannya dari agama, sedangkan nifaq kecil tidak mengeluarkannya dari agama.

Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal perbuatan bukan dalam hal keyakinan.

Nifaq besar tidak terjadi dari seorang Mukmin, sedangkan nifaq kecil bisa terjadi dari seorang Mukmin.

Pada umumnya, pelaku nifaq besar tidak bertaubat, misalkan pun bertaubat, maka ada perbedaan pendapat tentang diterimanya taubatnya di hadapan hakim. Lain halnya dengan nifaq kecil, pelakunya terkadang bertaubat kepada Allah, sehingga Allah menerima taubatnya


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ


“ Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) .” [Al-Baqarah/2: 18]


Juga firman-Nya:


أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ


“ Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pe-lajaran? ” [At-Taubah/9: 126]


D. Kesimpulan

Akidah adalah keyakinan yang kokoh dan pasti dalam hati terhadap Rukun Iman, menjadikannya pondasi utama dan inti dari seluruh ajaran Islam; tanpa akidah yang benar, ibadah dan amal seorang Muslim tidak akan diterima. Kufur, yang berarti ingkar, terbagi dua: kufur kecil, yang merupakan ingkar nikmat atau hukum (tidak mengeluarkan dari Islam), dan kufur besar atau kufur akidah, yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, seperti Syirik, Murtad, atau Muattil/Atheis. Sementara itu, Nifaq adalah sikap menyembunyikan kekufuran di dalam hati tetapi menampakkan keimanan secara lahiriah. Nifaq juga terbagi menjadi dua jenis: Nifaq I'tiqadi (Nifaq Besar/Keyakinan), yang mengeluarkan pelakunya dari agama karena perbedaan keyakinan batin dan lahir, dan Nifaq 'Amali (Nifaq Kecil/Perbuatan), yang tidak mengeluarkan dari agama, tetapi merupakan perbuatan buruk seperti berkhianat, berdusta, atau memungkiri janji. 


     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar