Ghibah merupakan perilaku membicarakan keburukan atau aib orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut, meskipun apa yang dibicarakan itu benar. Dalam lingkungan sekolah, ghibah sering terjadi dalam bentuk bergosip tentang teman, membicarakan kekurangan guru, atau menyebarkan cerita yang menjatuhkan orang lain. Perilaku ini sering dianggap sepele, padahal dalam ajaran Islam ghibah merupakan perbuatan dosa yang sangat dilarang karena dapat merusak hubungan sosial dan melukai perasaan sesama.
Allah Swt. dengan tegas melarang perbuatan ghibah dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing satu sama lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi maha penyayang”(QS. Al-Hujurat:12)
Ayat tersebut menggambarkan betapa buruknya perbuatan ghibah dengan perumpamaan memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal, sebuah gambaran yang sangat menjijikkan. Oleh karena itu, membiasakan diri untuk menghindari ghibah di sekolah merupakan bagian dari upaya membentuk akhlak mulia dan kepribadian yang baik.
Salah satu cara untuk menghindari perilaku ghibah adalah dengan menjaga lisan dan tulisan. Siswa perlu membiasakan diri berpikir sebelum berbicara atau menulis, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Jika pembicaraan tidak membawa manfaat atau berpotensi menyakiti orang lain, maka lebih baik di tinggalkan. Rasulullah Saw juga mengajarkan bahwa berkata baik atau diam adalah sikap yang terpuji.
Cara berikutnya adalah memilih lingkungan pergaulan yang baik. Lingkungan pertemanan sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Jika seseorang berada di lingkungan yang gemar bergosip, maka besar kemungkinan ia akan ikut terlibat. Oleh karena itu, siswa perlu bergaul dengan teman-teman yang memiliki kebiasaan positif, saling menasihati, dan menjauhi pembicaraan yang tidak bermanfaat. Selain itu, mengisi waktu dengan kegiatan yang positif juga dapat membantu menghindari ghibah. Kesibukan dalam belajar, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, organisasi sekolah, atau kegiatan keagamaan dapat mengurangi waktu luang yang sering dimanfaatkan untuk bergosip. Dengan aktivitas yang bermanfaat, siswa akan lebih fokus pada pengembangan diri. Cara lainnya adalah menumbuhkan rasa empati dan menghargai orang lain. Dengan membiasakan diri memahami perasaan orang lain, siswa akan berpikir ulang sebelum membicarakan keburukan seseorang. Menyadari bahwa setiap orang memiliki kekurangan akan membantu menumbuhkan sikap saling menghormati dan tidak mudah menghakimi.
Terakhir, membiasakan introspeksi diri dan memperbanyak doa juga penting. Siswa perlu menyadari bahwa memperbaiki diri sendiri jauh lebih penting daripada membicarakan kekurangan orang lain. Dengan berdoa agar dijauhkan dari perbuatan tercela, termasuk ghibah, hati akan lebih terjaga. Dengan menerapkan kebiasaan- kebiasaan tersebut, perilaku ghibah di lingkungan sekolah dapat dikurangi. Sekolah pun akan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh dengan sikap saling menghargai, sehingga tercipta generasi yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar