Iman kepada Allah SWT adalah fondasi terdalam dalam kehidupan seorang muslim, namun sering kali dipahami secara dangkal dan seragam. Banyak orang mengira iman cukup diucapkan dan diwarisi, padahal iman sejati adalah kesadaran aktif yang terus hidup, bertumbuh, dan memengaruhi cara manusia memaknai dirinya serta dunia. Iman bukan hanya keyakinan teologis, melainkan orientasi batin yang mengarahkan pikiran, sikap, dan keputusan hidup.
Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ “Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya” (QS. An-Nisa: 136). Ayat ini menunjukkan bahwa iman bukan keadaan statis. Seseorang bisa berstatus beriman, tetapi masih dituntut untuk memperdalam imannya melalui kesadaran, ketaatan, dan kejujuran spiritual.
Iman kepada Allah berarti meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi. Keyakinan ini melahirkan pengawasan batin yang tidak bergantung pada kehadiran manusia lain. Allah SWT berfirman: وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hadid: 4). Kesadaran ini menjadikan iman sebagai kompas moral yang bekerja bahkan saat seseorang sendirian.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Iman bukanlah angan-angan, tetapi apa yang menetap di dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan” (HR. Ath-Thabrani). Hadis ini menegaskan bahwa iman yang tidak melahirkan perubahan perilaku adalah iman yang rapuh. Kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sosial merupakan buah alami dari iman yang hidup.
Iman juga melahirkan keberanian moral. Orang beriman berani berkata benar meskipun tidak populer dan tetap lurus meski berisiko. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada” (HR. Tirmidzi). Selain itu, iman membentuk akhlak sosial yang lembut dan bertanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang mukmin adalah orang yang membuat manusia lain merasa aman dari lisan dan tangannya” (HR. Ahmad).
Dengan demikian, iman kepada Allah SWT bukan sekadar keyakinan simbolik, melainkan kekuatan batin yang menghidupkan nurani, menenangkan jiwa, dan membimbing manusia menuju kehidupan yang bermakna dan berakhlak mulia. Iman yang mendalam juga membentuk cara seseorang memandang kegagalan dan keberhasilan. Ketika berhasil, iman mencegah kesombongan karena menyadarkan bahwa segala kemampuan adalah titipan Allah. Ketika gagal, iman menghalangi keputusasaan karena setiap peristiwa diyakini memiliki tujuan pendidikan ruhani. Dalam perspektif ini, iman menjadikan hidup tidak kosong dan reaksi manusia lebih matang. Ia tidak mudah larut dalam euforia, dan tidak tenggelam dalam kesedihan. Iman mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, antara usaha maksimal dan penerimaan yang lapang. Inilah hikmah iman yang jarang disadari, yaitu membentuk kedewasaan batin yang stabil dan berjangka panjang. Oleh karena itu, iman bukan hanya urusan ibadah ritual, tetapi fondasi etika, ketahanan mental, dan arah hidup manusia sepanjang waktu. Tanpa iman, manusia mudah kehilangan makna, tujuan, dan batas, meskipun memiliki ilmu, kekuasaan, dan kemajuan teknologi yang sering menyesatkan arah hidup.
Hikmah utama iman kepada Allah SWT adalah ketenangan batin. Orang beriman tidak memandang hidup sebagai rangkaian peristiwa tanpa arah. Allah SWT berfirman: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ, “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ketenangan ini memberi kekuatan untuk tetap waras di tengah tekanan dan tidak hancur oleh kegagalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar